PAKEM adalah Pendekatan Pembelajaran

By. Ide guru

PAKEM adalah pendekatan pembelajaran, bukan metode atau strategi pembelajaran. Pendekatan dapat dimaknai sebagai cara pandang terhadap sesuatu, sedangkan metode adalah bagian dari pendekatan. Metode bisa berupa diskusi kelompok, ceramah, tanya jawab, penugasan, demonstrasi, eksperimen, karyawisata; dan kegiatannya bisa berupa siswa melakukan percobaan, wawancara, membuat denah, membaca peta, membaca dan menulis ragam teks, dan sebagainya. Semua ini dilakukan dengan cara mengaktifkan anak, mendorong munculnya kreativitas, dilaksanakan dalam suasana belajar yang menyenangkan, dan diharapkan mencapai hasil belajar yang efektif.

Menurut teori Konstruktivisme, belajar adalah proses membangun makna atau pemahaman dan ini hanya bisa dilakukan kalau siswa aktif (mental dan fisik), melibatkan semua indera (Suparno, 1997:49). Belajar tidak hanya proses individual, tetapi juga proses social di mana anak dapat saling berinteraksi  sehingga terasah kecerdasan intelektual, emosional, dan sosialnya sekaligus. Pada diri anak juga ditanamkan bahwa belajar bukan hanya di bangku sekolah, tetapi harus menjadi kegiatan sepanjang hayat.  Melalui kegiatan interaksi dengan sesama teman, guru, bahan ajar, dan lingkungan, anak dilatih dapat mengembangkan berpikir kritis dan kreatif.

Bagaimana mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif melalui interaksi dalam belajar? Sebagaimana kita ketahui kemampuan membaca, menulis, dan berhitung yang fungsional (calistung) sebagai kemampuan dasar harus dimiliki setiap anak, semua ini akan terwujud jika anak dilatih terus-menerus, baik melalui belajar mandiri maupun berkelompok. Pengalaman membaca beragam teks dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, sekaligus membantu mengembangkan kreativitasnya dalam menulis. Demikian pula belajar matematika agar bermakna bagi anak, harus dikaitkan dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Semua kegiatan ini harus menyenangkan dengan menerapkan beragam pengelolaan kelas, kadang individual, berpasangan, kelompok kecil, atau klasikal. Belajar tidak hanya di dalam kelas, tetapi sekali-sekali juga perlu di luar kelas agar pengalaman anak beragam. Dengan mengalami langsung dan belajar hal-hal baru yang menantang, diharapkan hasil belajar akan efektif dan mencapai tujuan sesuai perencanaan.

Apakah PAKEM Cocok untuk Siswa SD ?

Menurut Jean Piaget, perkembangan berpikir manusia dibagi dalam 4 tahap. Tahap I (usia 0-2 tahun) tahap sensorimotorik, tahap II (usia 2-7 tahun) tahap pra-operasional, tahap III (usia 7-12 tahun) tahap operasional konkret, dan tahap IV (usia 12-dewasa) operasional formal (Piaget dalam Suparno, 1997: 34). Berdasarkan tahapan perkembangan berpikir itu, maka siswa SD berada pada tahap operasional konkret. Artinya kalau guru menjelaskan suatu konsep baru harus disertai dengan alat peraga yang dapat dilihat, dicium, atau  diraba. Sementara, anak juga punya potensi lahir yang berupa rasa ingin tahu yang tinggi dan daya imajinasi. Potensi ini akan berkembang jika dilayani sesuai dengan hakikat anak belajar, yakni bahwa anak suka meniru apa yang dilakukan orang dewasa, anak belajar sambil bermain dan berbuat, dan anak belajar menggunakan banyak indera. Dengan demikian, kegiatan  pembelajaran yang cocok adalah dengan menggunakan benda-benda konkret di mana anak bisa memanipulasi dengan kemampuan berpikir dan kinetiknya (gerak/berbuat).

Selain itu, menurut hasil riset Neurologi, perkembangan otak manusia mencapai 80% terjadi pada usia 0 sampai 8 tahun. Setelah itu akan terus   berkembang tetapi semakin lamban (dalam Pedoman Tematik, Puslitjaknov,2007:9). Jadi pada kelas-kelas awal SD, anak berada pada usia emas (golden age). Oleh karena itu, guru harus melayani belajar anak sesuai dengan hakikat dan tahap perkembangannya, sehingga  anak dapat mengembangkan keingintahuan dan potensinya secara maksimal, termasuk bakat dan minatnya. Proses belajar aktif yang sesuai dengan karakteristik belajar anak, tentu juga akan  mengembangkan kemampuan berbahasa/berkomunikasi sejalan dengan kemampuan berpikirnya. Belajar melalui kerja kelompok, mengembangkan kemampuan berinteraksi dengan bertanya, mengemukakan pendapat, mengekspresikan gagasan,  bercerita/ menceritakan pengalaman adalah sarana mengembangkan kemampuan berbahasa, sekaligus mengembangkan kemampuan berpikir dan bernalar.

Naskah saya peroleh dari pelatihan Pakem, tidak ada catatan kakinya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: