HDI INDONESIA TETAP RENDAH

OLEH KI SUPRIYOKO*

SALAH satu badan internasional yang bernaung di bawah organisasi PBB, United Nations Development Programme (UNDP), baru saja menjalankan “ritual” tahunan, mengumumkan negara-negara menurut peringkat Human Development Index (HDI)-nya. Dalam laporan Human Development Report 2004, Indonesia ada di peringkat 111 dari 175 negara.

Sementara negara-negara jiran, seperti Singapura, Malaysia, Thailand, dan Filipina, di peringkat yang lebih tinggi.

Singapura, misalnya, negara jiran yang penduduknya tidak lebih dari jumlah penduduk Jakarta itu menempati peringkat 25 (tahun 2003 lalu di peringkat 28), jauh di atas Indonesia. Brunei Darussalam yang negaranya tidak seluas Jakarta di peringkat 33 (31); Malaysia yang pernah menjadi murid kita ada di peringkat 58 (58); sedangkan Thailand dan Filipina yang tujuh tahun lalu sama-sama dibantai krisis, masing-masing, di peringkat 76 (74) dan 83 (85).

Seperti tahun-tahun yang sebelumnya, laporan UNDP yang “biasa-biasa” itu akan menimbulkan reaksi dari masyarakat, khususnya kaum intelektual dan birokrasi pemerintahan. Ada yang bersikap menerima, tidak percaya, mempertahankan diri, dan lainnya.

Laporan UNDP itu bukan hal baru karena sudah dilakukan belasan tahun dan tiap tahun dipublikasi secara luas. Sebagai penyedap laporan, ditaruh bumbu-bumbu yang ditulis menurut persepsi tim studinya meski tidak seluruh data yang mendukung adalah data yang lengkap dan aktual. Ada juga data yang masih harus diklarifikasi validitasnya.

Kualitas manusia

Pada dasarnya HDI adalah satuan yang dikembangkan UNDP guna mengukur kesuksesan pembangunan suatu negara. HDI adalah angka yang diolah berdasarkan tiga dimensi; yaitu panjang usia (longevity), pengetahuan (knowledge), dan standar hidup (standard of living) suatu bangsa. Secara teknis ketiga dimensi ini dijabarkan menjadi beberapa indikator; yaitu kesehatan (dan kependudukan), pendidikan, serta ekonomi.

Indikator kesehatan menyangkut angka kematian bayi (infant mortality rate), angka kematian balita (under-five mortality rate), dan lainnya. Indikator kependudukan menyangkut usia harapan hidup (life expectancy), penduduk yang tak mempunyai harapan hidup sampai usia 60 tahun (people not expected to survive to age 60), dan lainnya. Indikator pendidikan menyangkut angka melek huruf (literacy rate), anak yang berpendidikan sampai kelas lima SD (children reaching grade 5), angka partisipasi pendidikan (enrolment ratio), dan lainnya. Adapun indikator ekonomi antara lain menyangkut indeks kemiskinan (poverty index).

Dari berbagai indikator itu, HDI merupakan ukuran keberhasilan pembangunan kesehatan, pendidikan, dan ekonomi suatu bangsa. Implikasinya, HDI yang tinggi menunjukkan keberhasilan pembangunan kesehatan, pendidikan, dan ekonomi. Sebaliknya, HDI yang rendah menunjukkan ketidakberhasilan pembangunan kesehatan, pendidikan, dan ekonomi suatu negara.

Penafsiran HDI sebagai indikator kualitas manusia tidak terlalu salah sepanjang satuannya adalah bangsa atau manusia di negara tertentu dan konteksnya terbatas pada kesehatan, pendidikan, dan ekonomi. HDI bukanlah ukuran mutu manusia dalam satuan individu atau orang per orang.

Apakah publikasi UNDP yang memosisikan Indonesia di peringkat 111 dari 175 negara untuk tahun 2004 menunjukkan kualitas manusia Indonesia rendah? Untuk menjawab masalah ini perlu dipelajari sistem publikasi UNDP sendiri. Dalam publikasi laporan tahunannya, UNDP mengklasifikasi negara-negara dalam kelompok tinggi (high human development) dengan indeks di atas 0,800; kelompok menengah (medium human development) dengan indeks 0,501 sampai 0,800; dan kelompok rendah (low human develop-ment) dengan indeks di bawah 0,500.

Khusus dalam laporan tahun 2004, Indonesia dimasukkan dalam kelompok menengah, yaitu di peringkat 111 dari 175 negara. Di kelompok menengah ini ada banyak negara tetangga, seperti Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam. Di luar itu ada Meksiko, Brasil, Rusia, dan sebagainya. Pada kelompok tinggi ada Norwegia, Swedia, Australia, Kanada, Belanda, Jepang, Amerika Serikat, dan sebagainya; sedangkan di kelompok rendah ada negara terbelakang seperti Nepal, Banglades, dan Angola.

Dari data itu sebenarnya prestasi Indonesia tak terlalu buruk, setidaknya lebih baik dari negara-negara di kelompok rendah. Kualitas manusia Indonesia juga tidak terlalu rendah, meski tidak tinggi. Kualitas manusia Indonesia sedang-sedang saja; lebih baik dari Nepal, Banglades, Angola, dan sebagainya, tetapi jauh lebih buruk daripada Norwegia, Australia, Jepang, dan sebagainya.

Yang membuat kita kebakaran jenggot adalah, mengapa kualitas manusia Indonesia lebih rendah dari Singapura (25), Brunei (33), Malaysia (58), Thailand (76), dan Filipina (83)? Mengapa kualitas kita lebih rendah dari negara-negara “terbelakang” seperti Kirgistan (110), Guinea-Katulistiwa (109), dan Aljazair (108)?

Tiga kata kunci

Meski kita tidak perlu meyakini secara membabi buta publikasi UNDP dalam pemeringkatan HDI, ada baiknya kita menarik pelajaran dari publikasi itu. Lebih rendahnya kualitas manusia Indonesia dibandingkan dengan negara-negara tetangga dan sebagian negara terbelakang harus kita akui untuk dijadikan alat pemicu dan pemacu guna perbaikan diri.

Ada tiga kata kunci guna meningkatkan kualitas manusia Indonesia, yaitu visi, komitmen, dan disiplin. Dalam hal visi kita bisa belajar dari Malaysia. Negeri jiran ini sejak pertengahan 1990-an sudah membuat visi yang dikenal dengan Malaysia 2020. Sejak pertengahan 1990-an pemerintah menetapkan gambaran masyarakat Malaysia seperempat abad ke depan sehingga program-program pembangunan difokuskan kepada pencapaian visi. Siapa pun yang memimpin senantiasa berpegang pada visi yang telah menjadi kesepakatan bangsa. Selanjutnya segala upaya disinergikan untuk mencapai visi.

Tentang komitmen kita bisa belajar dari Thailand. Ketika Thailand dan Indonesia didera krisis 1997, kedua negara porak poranda. Namun, ternyata Thailand mempunyai komitmen kuat untuk mengakhiri krisis. Komitmen ini diimplementasi ke tingkat operasional. Kegiatan-kegiatan pertemuan seremonial kenegaraan, seminar, lokakarya, yang biasa dijalankan agak berlebihan dilakukan sederhana; jauh dari hotel mewah, jauh dari biaya tinggi. Alhasil, negeri ini berhasil keluar dari kemelut krisis, sementara kita masih bergulat dengan krisis yang belum berakhir.

Dalam hal disiplin kita dapat belajar dari Singapura. Negara yang mungil ini bisa maju sekaligus menjadi pusat perhatian dunia karena kedisiplinan di berbagai bidang dijunjung tinggi. Bila dalam laporan studi PERC (2004), Political and Economical Risk Consultancy, Singapura dinobatkan sebagai negara paling bersih dari korupsi, kiranya tidak lepas dari tingginya kedisiplinan mereka.

Apakah kita mempunyai visi, komitmen, dan disiplin untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia? Apakah kita berani mengambil pelajaran dari publikasi UNDP untuk belajar dari negara-negara lain yang lebih maju, khususnya negara tetangga? Itu tergantung komitmen kita bersama.

Ki Supriyoko Ketua Majelis Luhur Tamansiswa; Wakil Presiden Pan-Pacific Association of Private Education (PAPE) yang Bermarkas di Tokyo, Jepang

Iklan

5 Responses to HDI INDONESIA TETAP RENDAH

  1. chyifa melon berkata:

    maju terus pantang mundur,hiduup indonesia jangan pernah menyerah karena aku kan selalu brejuang untukmu,walau aku hanya satu,tapi akan ada 1000 aku yang lain….

  2. Nanang berkata:

    Kira2 dimana bisa mendapatkan buku HDI indonesia yang terbaru?

    • ideguru berkata:

      Inilah kesulitannya pak nanang, ketika saya menulis tesis juga kesulitan. semoga pembaca yang lain mengetahui dimana buku terbaru tentang hdi dan peringkat pendidikan indonesia terbaru. sukses selalu buat pak nanang

  3. Nanang berkata:

    Owh…begitu ya pak,,
    Apa buku HDI ini tidak dijual atau dishare di tempat yg dimana setiap orang yang ingin mendapatkan informasi HDI ini bisa mengakses dengan mudah pak? Apa mungkin hanya untuk dipakai dikalangan UNDP sendiri pak? Wah repot juga ya pak klw kita pengen menggunakan data HDI sebagai dasar buat Skripsi atau tesis,,,
    Sukses juga buat Bapak,,,
    Mohon Infonya ya pak klw bapak bisa menemukan informasi dimana saya bisa mandapatkan data HDI ini,,

    Terima Kasih,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: