SURABAYA VS SINGAPURA DALAM HAL PENGHIJAUAN DI PINGGIR JALAN RAYA

Maret 29, 2014

Oleh Mudzakkir Hafidh

(Tulisan 1, Study wisata di Singapura)

Membahas keasrian serta penghijauan di Surabaya memang tidak ada habisnya, kita sebagai warga Surabaya patut berbangga dengan banyaknya taman kota serta pepohonan yang kian hari semakin asri, meski Kota Surabaya terletak di tepi laut jawa namun dengan banyaknya tumbuhan dan aneka bunga tak terasa panasnya.

Nah, sekarang tidak ada salahnya kita membahas kemajuan taman kota di Kota Surabaya yang semakin hari kian asri ini dengan Kota Singapura, yang mana alhamdulillah penulis pernah berkunjung selama 6 hari untuk mengikuti study banding bersama teman-teman mahasiswa pasca sarjana UNESA Surabaya.

Penghijauan di pinggir jalan raya

Kota Singapura ? he..he..jangan ditanya sepanjang mata memandang selama 6 hari jalan-jalan dari utara ke selatan atau barat ke timur, saya lihat  seluruh jalan raya di kota tersebut di kanan kirinya penuh dengan aneka bunga dan pepohonan yang terawat rapi, sebagian bahkan sampai menutupi jalannya. hampir menyerupai hutan kecil di tengah kota. asri…sejuk…sebagian besar pohonnya sudah besar artinya sudah lama menanamnya, bahkan kata Tour guide kami, pohon-pohon itu dulu khusus didatangkan dari benua Afrika, yang memang mempunyai kelebihan dari pohon pelindung lain yaitu tidak gampang tumbang dan daunnya rindang. Bagaimana jika ada yang sengaja menebang ? wouh…jangan tanya hukumannya berat dan memang itu tidak mungkin dilakukan oleh penduduk Singapura yang taat hukum dan sadar akan kelestarian alam semesta. Baca entri selengkapnya »


AKAL PIKIRAN VS HAWA NAFSU

Maret 27, 2014

Oleh Mudzakkir Hafidh

berfikirSeperti biasa setelah shalat maghrib setiap minggu sang Kyai memberi tausiyah atau nasihat kepada para santri dan para jamaah yang kebetulan shalat di masjid tersebut. Sang Kyai menyampaikan pesan, “Barangsiapa yang mengedepankan akal pikiranya daripada hawa nafsunya maka sungguh ia beruntung dan selamat, sebaliknya barang siapa yang mendahulukan hawa nafsunya daripada akal pikirnya maka ia akan merugi dan celaka”.

Ketika mendengar itu, seorang murid langsung angan-angannya terbang jauh, renungannya melompat dari batas dinding masjid itu membayangkan beberapa tokoh bangsa dan tokoh agama yang sekarang merana, ia bayangkan bagaimana sosok Anas urbaningrum, Amad eee….ee…salah ahmad Fathonah….ia juga bayangkan…ustadz Lutfi Hasan Ishaq…membayangkan lagi bapak menpora Andi Mallarangen….Oooooooaaaakil Muktar….si Dukun  Guntur Bumi… dll, mereka dulu orang terhormat dan terpandang, mungkin juga mereka dulu adalah teladan bagi masayarakat, tetangganya dan pasti keluarganya. Karena mereka lebih mendahulukan nafsunya daripada akal pikirnya maka nasib mereka jatuh ke jurang kenistaan, bahkan lebih jelek dari comberan. mengapa begitu ? karena mereka adalah orang-orang terdidik dan cerdik pandai. Sayang mereka tidak hati-hati dengan kerasnya kehidupan ini yang penuh tipu daya dan berbagai muslihat keji.

Baca entri selengkapnya »