BERAGAM WATAK SEORANG PEMIMPIN

Januari 21, 2011

By. Mudzakkir Hafidh

(artikel seri I)

He…he….ini hanya pendapat pribadi lho….kalau cocok boleh dijadikan referensi, kalau salah…ya…hitung-hitung sumbangsih saya pada diri sendiri saja. semoga kita semua menjadi pemimpin yang baik. kan setiap manusia adalah pemimpin…betulkan …langsung aja…watal seorang pemimpin ada 4 menurut saya :

Pemimpin Berwatak Makelar

Pemimpin yang fikirannya fulus terus, tidak menghiraukan kesyejahteraan karyawan atau orang lain, pokoknya gak mau berkorban, segala sesuatu yang ia kerjakan harus memberi profit bagi dirinya, meskipun dengan segala cara. Baca entri selengkapnya »

Iklan

ILMUWAN MINUS PENELITIAN

Januari 19, 2011

Oleh Saifur Rohman
Peneliti Filsafat

Survei SCImago melaporkan, publikasi hasil penelitian Indonesia selama 13 tahun (1996-2008) adalah 9.194 tulisan. Angka itu menempatkan negeri ini di urutan ke-64 dari 234 negara yang disurvei. Dibanding negara tetangga, Singapura berada pada peringkat ke-31, Thailand ke-42, dan Malaysia 48.

Data itu tidak signifikan dengan jumlah peneliti di perguruan tinggi yang mencapai 89.022 orang. Menurut Kementerian Pendidikan Nasional, peneliti berpendidikan magister mencapai 71.489 orang, doktor 13.033 orang, dan guru besar 4.500 orang. Jika mengacu data SCImago, berarti dalam rentang lebih dari 10 tahun hanya ada satu dari 10 dosen yang menerbitkan hasil penelitian. Jika interval dipersempit dalam rentang satu tahun, jelas persentase itu sepuluh kali lebih sedikit. Baca entri selengkapnya »


MATINYA SEKOLAH DAN KAMPUS KITA?

Januari 19, 2011

Oleh Ahmad Baedowi
Pengamat pendidikan

Agak ekstrem, memang, membayangkan sekolah dan kampus tak memberi arti banyak bagi pertumbuhan mental individual dan sosial anak-anak kita. Secara individual mereka digiring untuk berpikir konvergen dan sangat jarang dituntun untuk berpikir secara divergen. Akibatnya pendidikan sangat minim dengan praktik mengapresiasi kondisi sosial karena di sekolah dan kampus anak-anak kita secara sengaja dan menyengaja diasingkan dengan persoalan keseharian yang ada di sekitar mereka. Akibatnya, muncul perlawanan diam-diam dalam bentuk yang asosial; kerumunan, tawuran, demonstrasi anarkistis, dan bentuk-bentuk kekerasan sejenis yang tak mereka dapati dan pelajari di sekolah dan kampus. Baca entri selengkapnya »


PENDIDIKAN KARAKTER, PERLUKAH?

Januari 19, 2011

Oleh Mohammad Abduhzen
Direktur Eksekutif Institute for Education Reform Universitas Paramadina Jakarta; Ketua Litbang PB PGRI

Seperti baru siuman, tiba-tiba dunia pendidikan kita diramaikan oleh gagasan tentang pentingnya pendidikan karakter. Pihak Kementerian Pendidikan Nasional telah menggelar sarasehan nasional, dan menjadikan pendidikan karakter sebagai arah dan muara pendidikan nasional. Berbagai pidato para pejabat serta tulisan para pakar dan praktisi pendidikan juga menyatakan hal yang sama.

Pementingan itu biasanya dihubungkan dengan keprihatinan terhadap berbagai situasi kemanusiaan dan kebangsaan kita dewasa ini, seperti merebaknya perilaku korupsi, dekadensi moral, keculasan politikus, dan kelembekan (para pemimpin) bangsa ini dalam menyikapi tindakan bangsa lain, di antaranya keagresifan negeri jiran di perbatasan; dan perlakuan terhadap warga negara kita di perantauan. Pendidikan karakter dengan muatan nilai mulia dan kesatria dianggap mampu memperbaiki kenyataan tersebut. Baca entri selengkapnya »


Mengembalikan Kehormatan Guru

Januari 19, 2011

Oleh Doni Koesoema A
Peneliti dan Konsultan Pendidikan, Alumnus Boston College Lynch School of Education, AS

Tak pernah ada dalam sejarah bangsa ini profesi guru begitu terpuruk di mata masyarakat seperti saat ini. Seringnya guru mogok mengajar karena berdemonstrasi, citra guru yang rusak karena tuntutan ujian nasional, dan kebijakan pendidikan yang abai terhadap pengembangan profesional guru hanya beberapa kenyataan yang menunjukkan betapa kehormatan guru telah hilang. Mengembalikan kehormatan guru tak lagi bisa ditawar untuk menyelamatkan masa depan negeri ini. Tugas itu tak ringan dan memerlukan kerja sama banyak pihak sesuai cakupan tanggung jawab mereka. Hanya dengan pendekatan utuh dan sinergilah, kita dapat mengembalikan kehormatan guru. Baca entri selengkapnya »


CITRA PROFESI GURU

Januari 19, 2011

Oleh Asep Sapa’at
Pelatih Pendidikan Lembaga Pengembangan Insani Dompet Dhuafa

Hanya ada dua profesi di dunia, yaitu guru dan bukan guru. Mungkin ini hanya sebuah pandangan subjektif, meskipun mungkin juga hal ini pun sangat benar adanya. Profesi guru menghasikan profesi lainnya, tetapi tidak sebaliknya. Ada sebagian orang yang jalan hidupnya berubah karena diinspirasi sosok guru. Guru, tak cukup pandai menjelaskan sajian materi pelajaran, tetapi lebih dari itu, guru adalah orang yang mampu membuat perbedaan bagi pribadi-pribadi siswanya karena perilakunya yang layak digugu dan ditiru.

Jika kita cermati sejarah perkembangan profesi guru di tahun 1960-an, profesi guru masih menjadi suatu profesi yang banyak diminati sehingga proses seleksinya pun relatif ketat. Alhasil, pada saat itu, mereka yang diterima untuk bisa belajar di lembaga pendidikan guru adalah para lulusan terbaik dari sekolah menengah (ranking I sampai III). Baca entri selengkapnya »


SERTIFIKASI GURU

Januari 19, 2011

Oleh Waras Kamdi
Ketua LP3 Universitas Negeri Malang; Pegiat Kelompok Peduli Pendidikan Guru

Fenomena kecurangan dalam pelaksanaan Sertifikasi Guru Dalam-Jabatan lewat Portofolio kian menguak apa yang sesungguhnya telah jadi rahasia umum.

Terungkapnya kasus plagiasi 1.700 guru di Riau menunjukkan sebagian kecil dari kecurangan dalam memenuhi portofolio sertifikasi guru. Banyak masyarakat yang merisaukan aneka pelanggaran itu, tetapi program sertifikasi terus saja melaju atas nama pemenuhan amanat peraturan perundang-undangan.

Kerisauan juga berkembang di kalangan pimpinan lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK), terutama yang diserahi tugas melaksanakan sertifikasi tersebut. Dalam lima tahun terakhir (2006-2009), lebih dari 500.000 guru telah diberi sertifikat oleh LPTK yang ditunjuk pemerintah (Kompas, 1/11). Namun, hingga detik ini belum ada kabar menggembirakan adanya peningkatan kinerja guru bersertifikat pendidik itu. Malahan, sertifikasi telah sempurna menyemaikan dan menyuburkan budaya jalan pintas yang amat mencederai sosok profesional guru itu sendiri. Baca entri selengkapnya »