PERBUATAN NEGATIF YANG SUDAH MENJADI BUDAYA BANGSA INI

Oleh

Mudzakkir Hafidh

jujurBagaimana kabarnya para pembaca ? semoga anda semua sehat-sehat selalu dan met berkumpul dengan keluarga di hari libur, hari buruh ini. semoga keamanan dan ketentraman bangsa ini terjaga meski hari ini banyak demo di hampie seluruh wilayah negeri ini. Amiin.

Pembaca masih ingat, besok Jumat,  tanggal 2 Mei 2014 adalah hari pendidikan nasional. nah pada tulisan saya ini sengaja saya mengingatkan para pelaku pendidikan atas  barbagai perbuatan negatif yang sifatnya sudah masif (sangat banyak dan sering dilakukan masyarakat Indonesia) namun hal itu sudah dianggap sebagai  sebuah kewajaran dan saya khawatir kalau kita tidak perhatikan oleh semua pihak perbuatan itu akan meningkat menjadi budaya masyarakat, perbuatan itu adalah suap menyuap, yuk kita jabarkan ya…apa saja perbuatan yang sudah dianggap wajar dan dilakukan baik sengaja atau tidak oleh masyarakat Indonesia yang katanya agamis, sebagai berikut :

  • DI BAYAR UNTUK MENCOBLOS DALAM SEBUAH PEMILIHAN

Perbuatan di atas tidak hanya dilakukan oleh masyarakat perkotaan saja, perbuatan ini sudah dianggap wajar bagi masyarakat di pedesaan. ya hitung-hitung uang tersebut sebagai ganti upah meninggalkan kerja sehari atau sebagai ongkos transportasi  menuju ke tempat pemungutan suara. dalam acara diskusi di sebuah TV swasta perbuatan ini disebut sebagai perbuatan masif yang sulit dibuktikan, karena semua pihak saling menutupi dan tidak ada yang berani melapor.

Kegiatan ini dipraktekkan mulai dari pemilihan kepala desa sampai pemilihan umum nasional. tarifnya beragam mulai Rp. 25.000 sampai Rp. 100.000. modusnya satu hari menjelang hari pencoblosan utusan dari si calon kepala desa/anggota DPR mendatangi rumah warga sambil memberi uang tersebut, tidak lupa utusan tersebut memberi tanda gambar yang harus dibawa dan dicoblos oleh orang tersebut pada hari pencoblosan.

  • MEMBERI UANG POLISI PADA SAAT DITILANG

Haduw…untuk hal ini memang kadang saling membutuhkan he..he..si pengendara memang salah, ia tahu kalau ditilang ia harus menunggu waktu sidang yang masih lama, belum lagi ia harus antri saat sidang di pengadilan setempat, bukan hanya antri saat sidang yang sebenarnya sidangnya kilat, tapi saat membayar juga antri. inilah yang menjadi alasan para pengendara lebih baik memberi polisi saja atau istilahnya “titip” he..he..di sisi lain pribadi polisi yang menilang juga buruk bin payah, ia juga butuh uang ceperan, ya..sekedar untuk beli rokok atau satu piring nasi di warung soto ayam. kalau ia menilang sepeda motor tarifnya 25 ribu sampai 50 ribu kalau mobil antara 50 ribu sampai 100 ribu tergantung tawar menawarnya saja. kadang si pengendara tahu kalau di tilang ia cepat-cepat mengambil uangnya di dompet dan menyisahkan sebagian atau sepantasnya, selanjutnya ia minta maaf kepada polisi yang menilang sambil menunjukkan dompet yang isinya cuman sedikit. sambil menunggu belas kasih sang polisi, akhirnya ia pun berhasil bersandiwara dan hanya membayar 20 ribu saja. ya..masih mending tidak harus menunggu sidang. he..he…

Saya menghargai usaha kepolisian negara yang menghukum para aparatur nakalnya, memang sih sekarang sudah banyak aparat yang beriman dan bertaqwa dengan tidak mau disuap, ketika ia menilang langsung menulis di surat tilang yang sudah dibawanya tanpa memberi kesempatan si pengendara bertransaksi, bahkan ada yang langsung marah sambil berkata. “anda ini menghina saya, jangan samakan saya dengan yang lain”. selanjutnya ia langsung menulis surat tilang. salut bapak polisi  yang seperti ini.

  • MEMBERITAHU SISWA SAAT UJIAN NASIONAL

Subhanalloh…apakah memang ada???? jangan tanya saya, saya menulis ini hanya berdasarkan berita di koran atau TV serta hasil diskusi dengan teman-teman sesama guru.

Alasan perbuatan ini dilakukan oleh sekolah atau guru tertentu adalah (1) karena kasihan jika siswanya mendapat nilai yang jelek atau bahkan harus mengulang. he..he..enak dong jadi siswanya..tidak belajar tapi nilainya bagus-bagus payah guru seperti ini. Alasan yang kedua. Sekolah dan bahkan pemerintah daerah malu jika para siswa mendapat nilai yang buruk yang menjatuhkan nama baik sekolah atau nama baik daerah tertentu. Bahkan ada beberapa sekolah yang menjadikan nilai unas sebagai branding marketing sekolah tersebut meski untuk mendapatkannya harus menghalalkan segala cara.

Alasan ketiga, karena perengkingan hasil UNAS di media, sehingga beberapa kepala daerah melalui dinas pendidikannya menginstruksikan para kepala agar berjuang mati-matian guna mengangkat para siswa untuk mendapatkan nilai yang baik. Para kepala daerah bangga jika mendapatkan penilaian terbaik rata-rata UNAS se-Propinsi atau Nasional.

Dalam hal ini saya salut salut sama Pemerintah Kota Surabaya, Ibu Walikota sering menyampaikan bahwa ia bangga dan lebih suka anak-anak Surabaya jujur dalam UNAS, ia juga menyampaikan kepada para kepala sekolah untuk tidak takut dan tidak malu mendapatkan nilai jelek yang penting kata beliau adalah semua guru-guru di Surabaya harus bekerja keras  membimbing para siswa. yang penting kata beliau adalah KEJUJURAN baru PRESTASI, percuma saja berprestasi rangking satu se jawa atau nasional tapi curang. he..he..betul kan.

  • Bersambung dulu ya…sudah maghrib..dan tangan dah kriting menulis he..he…TOLONG YA PEMBACA. TULISAN SAYA INI TIDAK ADA MAKSUD MENDISKREDITKAN/MENGHINA INSTANSI ATAU PRIBADI TERTENTU, SAYA HANYA MENGINGATKAN KEPADA PARA GURU SE INDONESIA TERMASUK SAYA. MARI KITA JADIKAN ANAK DIDIK KITA MENJADI CALON GENERASI YANG JUJUR DAN AMANAH. SEHINGGA KELAK KETIKA MEREKA MENJADI PEMIMPIN BANGSA TIDAK MELAKUKAN SEGALA KECURANGAN SEPERTI SEKARANG, AMIN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: