MENANTI PENDIDIKAN BANGKIT

Oleh Ario Djatmiko ( Pendidik dan Praktisi Medis)

Tampaknya wajah pendidikan negeri ini tidak ceria. Lebih dari satu juta “penganggur bergelar” berkeliaran di negeri ini (Kompas, 10 Oktober 2009). Jumlah yang fantastis, setara dengan sepertiga jumlah penduduk Singapura.

Terbukti, dunia pendidikan tinggi (PT) kita tidak mampu menyiapkan tenaga terampil yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja.

Keliru kalau bersikap stigmatis dalam menilai pendidikan di negeri ini. Tentu masih ada PT yang baik bahkan mungkin teramat baik. Akan tetapi, fakta jelas menunjukkan, lebih banyak PT yang menyesatkan ketimbang yang dapat diandalkan. Ironisnya, setiap tahun anak-anak terus membanjir menuju PT padahal orang tua tahu ada benang kusut menanti di sana.

Ken Kox mengingatkan, a problem clearly stated is a problem half solved. Benar, dalam menyelesaikan masalah (baca: yang kompleks) mulailah dari akar pemasalahannya. Perih melihat kenyataan bahwa saat ini hampir seluruh umat di bumi ini menyembah pasar. Di sana berlaku logika supply and demand. Hak kepemilikan dan kebebasan memilih sepenuhnya harus dilindungi. Semua itu membawa persoalan di pasar.

Paul Krugman tahun 1997 menulis teori sederhana, The Accidental Theory. Dia memberi perumpamaan, satu negara memproduksi barang A sebanyak 60 juta. Jika untuk memproduksi barang A diperlukan 60 juta karyawan dan dua hari kerja, maka akan terdapat 60 juta x 2 hari kerja = 120 juta “men-days” kerja. Bila kemudian teknologi dapat menemukan cara memproduksi A menjadi hanya satu hari, apa yang akan terjadi? Pertama, supply akan meningkat mengikuti demand, misalnya, produksi akan meningkat menjadi 80 juta barang A. Kedua, terjadi masalah pada tenaga kerja. Jumlah men-days kerja akan menurun dari 120 juta menjadi 80 juta men-days kerja. Terjadi pengurangan tenaga kerja atau pengurangan jam kerja. Ketiga, karyawan yang tersisa harus mengikuti training teknologi baru.

Jelas, perkembangan teknologi membawa perubahan peta pasar kerja yang amat bermakna. Awalnya negara diuntungkan dengan meningkatnya produksi sebanyak 33,3 persen. Akan tetapi, negara akan segera dihadapkan pada dua problema serius: mencari jalan keluar untuk hilangnya 40 juta men-days kerja dan menyediakan training khusus untuk tenaga kerja yang tersisa. Ini bukan hal mudah. Teori Krugman tampaknya berguna untuk batu pijakan menyusun langkah ke depan.

Pendidikan Berada di Hulu

Hadirnya era informasi membuat situasi menjadi teramat kompleks. Ibarat Tsunami, produk baru terus membanjiri pasar. Allan Greenspan menyebut turbulence era, ditandai dengan perubahan di segala bidang dengan kecepatan tak terbayangkan. Beberapa produk mungkin akan menjadi pemenang, tetapi lebih banyak yang musnah. Benar, pasar telah menjadi arena hiperkompetisi yang teramat kejam. Pasar memaksa untuk terus mengubah diri dengan kecepatan tinggi. Dalam situasi seperti ini apa yang terjadi di pasar kerja? Teori Krugman kini menjadi tidak sederhana lagi.

Mata rantainya jelas: produk baru adalah hasil dari teknologi. Teknologi berawal dari inovasi dan kreativitas dan pengetahuan bersumber dari pendidikan. Jelas, badai bermula dari meledaknya teknologi yang notabene bersumber di pendidikan. Era knowledge economy telah hadir dan tidak ada lagi bangsa yang survive tanpa mempunyai akses keilmu-pengetahuan. Itulah cermin wajah negeri ini yang tak kunjung henti menjadi bulan-bulanan negara lain.

Memutus Rantai

Andreas Schleicher menulis, di Newsweek 17 Agustus 2009: Ongkos gagalnya pendidikan akan jauh lebih mahal ketimbang krisis keuangan. Itulah yang membuat Obama tetap menyuntik 12 miliar dolar AS untuk pendidikan, saat Amerika jatuh dalam krisis keuangan. Mereka sadar, negara akan kuat bila memiliki tiga hal: stabilitas politik, demokrasi, dan ekonomi yang kuat. Milton Friedman, mengatakan tanpa landasan pendidikan yang kuat, ketiga hal tersebut tidak akan tercapai.

Tengok, bangkitnya ekonomi Amerika, Jepang, Malaysia, Singapura, RRC, dan banyak negara lain, semua berawal dari bangkitnya dunia pendidikan. Schleicher menambahkan, banyak contoh negara yang harus membayar teramat mahal atas kekeliruan mengelola pendidikan di negaranya. Apakah bukan situasi itu yang dihadapi selama ini?

Percuma berusaha membersihkan air kotor di hilir kalau sumbernya ada di hulu. Rantai harus segera diputus. Peran negara amat jelas, menjamin kualitas pendidikan dan menjamin akses pendidikan untuk rakyat. Saya pernah membaca iklan PT luar negeri yang mencemaskan There is no education without global standard. Benar, pendidikan adalah suatu yang all or none. Artinya, tanpa kendali mutu, pendidikan hanya akan menyesatkan saja. PR kian berat, jarak kualitas pendidikan terasa semakin jauh. Inilah sumber masalah yang membuat negeri ini terus terpuruk. Belenggu harus dilepas!

Saya teringat kata-kata Stiglitz: Kalau ada hal yang paling berarti untuk kehidupan manusia, itu adalah kesempatan kerja. Tampaknya, harapan itu kian menjauh dari bangsa ini. Saatnya kita bertanya di mana peran negara dan masih bisakah kita berharap? n

Lebih banyak PT yang menyesatkan ketimbang yang dapat diandalkan. Ironisnya, setiap tahun anak-anak terus membanjir padahal orang tua tahu ada benang kusut di sana. (Sumber: Surya,, 7 Juni 2010)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: