Jika Suami dan Istri Berbeda Gaya Dalam Mendidik Anak

Ideguru. 7 Juni 2010

KOMPAS.com – Adalah hal yang sangat umum terjadi jika sepasang orangtua memiliki gaya mendidik anak yang berbeda. Misal, salah seorang dari orangtua memiliki sifat otoriter dan yang satunya lagi tipe santai. Jika tak segera disinkronisasi, anak-anak dan pernikahan Anda bisa menderita. Apa yang harus dilakukan?

Ketika gaya mendidik Anda berbeda dari pasangan, bisa terjadi ketegangan tinggi di antara Anda dan pasangan. Misal, Anda yang tak setuju dengan suami yang selalu memberikan “ancaman kosong” atau gertakan jika si kecil tidak mau diatur. Contoh, saat si kecil tidak mau diatur di supermarket, dan si suami mengancam tidak akan mengajak si kecil ke Dufan liburan nanti. Padahal, hal itu cuma gertakan kosong, dan pada saat liburan pun, si kecil tetap dibawa meski ia sempat nakal di supermarket. Sementara Anda, lebih percaya kepada kesepakatan yang realistis dan tak bisa membayangkan harus menghardik atau mengancam anak di tengah-tengah ruang publik.

Barbara Frazier, MSW, pekerja sosial dan terapis di Gaineville, Florida mengatakan, “Banyak pasangan yang berbeda dalam cara merawat dan mengasuh anak. Dan hal ini lama kelamaan akan menjadi masalah. Ini adalah hal yang wajar, namun yang perlu diperhatikan adalah seberapa besar perbedaannya.”

Tiga Tipe Orangtua

Para konselor keluarga membagi tipe orangtua dalam 3 kategori; otoriter (tipe yang sangat mengutamakan kepatuhan anak), permisif (tipe yang hanya memberikan sedikit panduan untuk si anak karena takut membuat si anak merasa takut atau marah), dan otoritatif (yang mampu menyeimbangkan atau mencampur nada bersahabat dengan membatasi setting yang konsisten).

Dalam dunia yang ideal, kedua orangtua memiliki gaya otoritatif, karena hal tersebut adalah gambaran ideal hubungan yang sehat. Apa yang membuat perbedaan dalam tipe orangtua menjadi sulit adalah karena hal tersebut terbentuk dari hal-hal di bawah alam sadar. Beberapa studi mengatakan, kita membentuk pandangan mengenai bagaimana cara mendidik dan membesarkan anak berdasarkan pengalaman mereka. Misal, ada yang tak setuju dengan bagaimana cara mereka dididik oleh orangtuanya dulu, hingga, saat memiliki anak, mereka berjanji pada diri sendiri tak akan mendidik anaknya dengan cara tersebut. Tapi ada pula yang sebaliknya, yang merasa setuju dengan cara orangtuanya mendidik dirinya, lalu ia melakukan hal yang sama.

Menurut Barbara, “Perbedaan dalam cara mendidik dan mengasuh anak bisa jadi hal yang bagus, asalkan tak terlalu jauh berbeda. Hal ini memberikan si anak cara pandang yang lebih luas mengenai nilai para orangtua dan kesempatan untuk memiliki hubungan spesifik dan spesial dengan masing-masing orangtua. Asalkan kedua orangtua masih bisa bersatu dan sepakat akan hal-hal lain, ini bisa jadi hal yang menyehatkan.”

Menjembatani Perbedaan Tipe Orangtua

Apa yang bisa pasangan dengan masalah dalam perbedaan tipe orangtua lakukan untuk membantu anak-anaknya tetap terjaga? Frazier mengatakan, orangtua bisa mencoba mencari jawaban ke konseling. Terapis profesional bisa membantu kedua orangtua mengerti bahwa pengalaman mereka di masa kecil bisa memengaruhi cara mereka mengasuh dan menghadapi anak mereka, juga bagaimana menghadapi perbedaan pendapat dalam cara yang sehat. Yang lebih penting lagi, jangan pernah membawa anak dalam perdebatan dengan pasangan. Apalagi menyuruh anak memilih salah satu sisi, atau bertengkar di depan mereka, karena hal tersebut berpotensi merusak pertumbuhan mental anak. Jika memang ada yang ingin diperdebatkan, coba lakukan hal tersebut di lain kesempatan, tidak di depan anak.

Sumber : Kompas.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: