ERA KEBANGKITAN MELALUI PENDIDIKAN

Satu lagi artikel yang enak di baca, di simak dan mungkin di renungkan bagi siapa saja warga negara ini, terutama bagi pengambil kebijakan yang setuju dengan liberalisasi pendidikan yang membuat pendidikan menjadi mahal..terutama di perguruan tinggi….ayo kita baca…

@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@

Oleh Purbayu Budi Santosa
Guru besar Fakultas Ekonomi Undip

KEBANGKITAN nasional saat ini semestinya dicatat sebagai momen penting untuk benar-benar membangkitkan semangat nasionalisme, dikaitkan dengan nasionalisme yang saat ini menurun drastis. Kita mestinya merasa malu bagaimana Indonesia yang dulunya anutan perkembangan bagi negara lain, sekarang justru dipandang begitu rendah oleh negara lain.

Sudah terbukti Malaysia bagaimana beraninya mempermainkan Indonesia dengan mengakui berbagai pulau kita sebagai miliknya, bahkan berbagai kesenian dan kekayaan lokal lainnya. Juga perlakuan semena-mena terhadap TKI dan kita sepertinya bungkam tidak berani protes.

Melihat kondisi tersebut, ada berbagai pihak yang prihatin, tetapi banyak yang acuh tak acuh tidak memikirkan masa depan Indonesia. Paling memprihatinkan adalah melihat negara Indonesia ada, masih merdeka, tetapi yang berkuasa adalah pihak lain. Banyak pihak khawatir nantinya rakyat kita hanya menjadi buruh dan budak dari pihak lain, sementara kekayaan kita pindah ke pihak lain. Bisakah pendidikan mengatasi hal tersebut?

Berbagai pihak berpendapat bahwa pendidikan adalah investasi masa depan, supaya kehidupan menjadi lebih baik. Kehidupan menjadi lebih baik bukan saja milik pribadi orang-orang yang menempuh pendidikan melainkan juga negara yang mendapat dampaknya dari orang-orang yang menjadi cerdas, bermoral, dan beretika serta mempunyai rasa nasionalisme tinggi.

Sejak kecil dalam lingkungan keluarga dan sekolah semestinya sudah diarahkan pada hal-hal itu. Kalau kita buka lembaran pendidikan awal 1970 -an ada berbagai pendidikan mengarah ke sana, misalnya muatan lokal dan peserta didik seperti saya yang berasal dari desa harus terjun ke sawah tiap hari tertentu, dan hasilnya dibagi dengan desa untuk membiayai berbagai keperluan ekstrasekolah.

Maksud pendidikan sepertiu itu sangat baik dalam arti mengenalkan peserta didik belajar bekerja dan mengenal lingkungannya. Pengenalan kearifan lokal berbagai daerah seperti belajar menyanyi lagu-lagu daerah sebagai keharusan dalam artian sebenarnya untuk mengenal keanekaragaman daerah.

Memang benar bahwa dalam tingkat kecerdasan orang Indonesia tidak kalah dari luar negeri, dari pendidikan dasar sampai perguruan tinggi. Kita dapat melihat bagaimana siswa atau mahasiswa Indonesia berkali-lagi menjuarai olimpiade sains di luar negeri.

Dari acara Kick Andy pun kita melihat bagaimana posisi puncak lembaga luar negeri banyak diduduki putra-putri terbaik Indonesia. Lantas kesalahan apa yang terjadi di Indonesia, sehingga pendidikan yang tingkatan pengajarannya tinggi, tetapi orang terbaik Indonesia malah banyak berkiprah di mancanegara?

Membawa Pembaruan

Penyebabnya adalah pendidikan di Indonesia terimbas oleh situasi karut-marut negara yang kurang percaya pada diri sendiri. Saran pihak asing bahwa subsidi adalah tidak baik, betul-betul merugikan dunia pendidikan. Akibat dari lembaga pendidikan yang harus menutup segala kebutuhan dana pengelolaannya, maka nuansa mencari tambahan dana terus dilakukan. Keadaan ini berimbas pada peserta didik yang sebenarnya tidak mampu menuntut ilmu dapat masuk, dan itu membuat pendidik luntur idealismenya akibat tuntutan kebutuhan yang makin mahal.

Anggaran pendidikan yang tinggi dalam APBN/APBD mestinya dapat menutup segala kebutuhan pendidikan sekolah. Pendidikan muatan lokal, kecintaan kepada Tanah Air, pendidikan etika dan moral, serta pendidikan kewirausahaan sangatlah penting dalam menuju kebangkitan Indonesia.

Pendidikan ini hendaknya diberikan dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Tetapi pendidikan ini memerlukan keteladanan dari elite bangsa dan negara. Keteladanan diperlukan karena bagaimana pun isi materi pendidikan kalau laboratoriumnya di masyarakat penuh kebobrokan dan kepalsuan, maka idealisme dapat luntur oleh kenyataan karena kita semua bisa saja menjadi bagian sistem besar.

Terlebih bila simbol kebanggaan ada pada pendidikan maka berbagai upaya apa pun dilakukan asal dapat masuk sekolah atau memperoleh gelar akademik bergengsi.

Komersialisasi dan liberalisme pendidikan sudah saatnya diakhiri, dan semestinya pendidikan ditempatkan pada porsinya, sebagai pembawa pembaruan menuju Indonesia yang maju dan sejahtera. (Sumber: Suara Merdeka, 20 Mei 2011).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: