BAGAIMANA SEKOLAH MENDIDIK ANAK ANDA?

OLEH

Prof DR. Arief Rachman(Pakar Pendidikan Indonesia)

Pakar Pendidikan Indonesia

Ilustrasi: Siswa tak perlu membohongi dirinya sendiri dengan berbuat curang atas nilai-nilai yang pantas diraihnya. Para pendidik pun bisa mengerti, sejauh mana anak didiknya sudah menyerap materi pelajaran.

JAKARTA, KOMPAS.com — Apakah anak Anda sudah mampu menganalisis sebuah materi pelajaran yang diberikan oleh gurunya? Berdasarkan kemampuan analisisnya itu, apakah dia juga bisa menceritakan kembali materi pelajaran tersebut kepada orang lain, baik itu temannya, gurunya, maupun orangtuanya sendiri? Bagaimana dengan anak Anda?

Dengan kemampuan analisa itu, evaluasi kemampuan akademik seorang anak didik lebih bisa dipertanggungjawabkan.
— Antarina SF Amir

Hilmi Panigoro, orangtua siswa Sekolah High/Scope Indonesia (SHI), mengatakan, kemampuan analisis anaknya saat ini bisa dilihat dari kemampuannya mempresentasikan sebuah ide dan mengurai cara ia akan melaksanakan ide-ide tersebut. Hanya saja, Hilmi menyayangkan dunia pendidikan di Indonesia saat ini yang kurang meng-encourage seluruh potensi anak didik agar bisa seperti itu.

“Potensi mereka tidak dikembangkan karena anak-anak didik itu sendiri dibuat tidak merdeka dengan ide-idenya,” ujar Hilmi, dalam paparan slide presentasi seminar dan Open House SHI: “Changing, So Why Choose a School That Hasn’t Changed?” di SHI TB Simatupang, Sabtu (23/1/2010).

Menurut Antarina SF Amir, Managing Director SHI, yang menjadi narasumber pada seminar tersebut, dengan kemampuan analisis tersebut, evaluasi kemampuan akademik seorang anak didik lebih bisa dipertanggungjawabkan, baik kepada sekolah, orangtua murid, maupun bagi anak didik itu sendiri. Mereka sudah tak lagi terpasung untuk berprestasi hanya berdasarkan nilai atau angka-angka.

“Orangtua tidak perlu risau lagi akan kemampuan anaknya, apalagi sampai harus memberi tekanan mental hingga si anak dinggap telah berprestasi,” ujarnya.

Dengan begitu, siswa tidak perlu membohongi dirinya sendiri dengan berbuat curang atas nilai-nilai yang pantas diraihnya. Para pendidik pun bisa mengerti, sejauh mana anak didiknya sudah menyerap materi.

Indi Handoyo, orangtua siswa SHI lainnya, mengatakan, pembinaan pola pikir anak tidak akan pernah bisa dikembangkan jika fokus pembelajaran di sekolah hanya pada nilai-nilai akademik yang berupa angka-angka di rapor.

“Saat ini rasa percaya diri anak saya benar-benar keluar, dia seperti tidak pernah takut salah untuk mengeluarkan pendapatnya,” ujar Indi.

Indi merasa, pembinaan terhadap pola pikirnya sudah berhasil ditanamkan oleh sekolah. Dia mengaku, anaknya memang diperlakukan sebagai subyek, bukan obyek pendidikan sekolahnya.

“Dia pede atas apa saja yang sudah dikatakannya,” komentar Kasiyati, orangtua siswa lainnya di sekolah tersebut.

http://edukasi.kompas.com.Senin, 25 Januari 2010 | 11:35 WIB

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: