AJAK ANAK BERANI OPOSISI

<!–suaraguru2–>

Oleh Bashori Muchsin
(Guru Besar dan Pembantu Rektor II Universitas Islam Malang)

Ketika sejumlah lembaga pendidikan mapan melakukan reaksi keras terhadap pembatalan UU BHP, masihkah pengelola pendidikan menghidupkan pertanyaan benarkah pendidikan yang sedang dibangun masih menjadi penjamin moral masa depan anak-anak?

Ketika 300 lebih kantin kejujuran didirikan di sejumlah sekolah oleh Pemprov Jatim misalnya, saat itu muncul pertanyaan, mengapa kantin kejujuran saja perlu didirikan? Sudah demikian frustrasikah kalangan penyelenggara pendidikan di negeri ini? Tidak cukupkah anak-anak didik menerima doktrin kejujuran sebagai doktrin yang meregulasi sikap dan perilakunya di masyarakat, khususnya membentuk mental militan sebagai pejuang?

Sekolah sekarang perlu memasuki ranah das sollen, bahwa idealnya pendidikan tidak mengabaikan pendidikan non-skill, atau tidak meminggirkan pola kependidikan yang berbasis pengutamaan dan penguatan sisi moralitas-humanitas. Di sisi inilah parameter keberhasilan tidaknya mendidik anak (SDM) bisa dinilai (dilihat), dan bukan semata-mata menekankan keterampilan atau model pembelajaran yang menghasilkan anak didik sebagai mesin memburu prestasi kerja.

Itu membenarkan tuduhan bahwa banyaknya virus yang melekat dalam diri masyarakat dan bangsa ini, tak lepas dari kesalahan penyelenggaraan pendidikannya. Ini sesuai adagium yang menyebut, maju tidaknya suatu bangsa ditentukan oleh model penyelenggaraan pendidikan kepada anak didiknya. Rapuh tidaknya suatu bangsa, ditentukan oleh kondisi pendidikan bangsa ini.

Ketika banyak orang pinter keblinger, hobi menjual amanat, atau sibuk memanipulasi norma kebenaran, mengamputasi keadilan, menyelingkuhi kekuasaan dengan merapuhkan sendi-sendi perekonomian negara dan memiskinkan rakyat, maka penyelenggaraan pendidikan kalau pendidikan gagal melahirkan pejuang militan.

Pendidikan divonis gagal menunaikan misi sucinya sebagai institusi pembebas dan pencerah, dan sebaliknya sekadar jadi pabrik yang melahirkan mesin yang menggerakkan praktik-praktik kotor, tak bermoral, atau suka memproduksi ketidakjujuran.

Pendidikan yang sebatas memperlakukan manusia sebagai mesin, dapat berakibat fatal bagi kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Pendidikan wajib menomorsatukan sisi moralitas-religiusitas dibandingkan kepentingan memburu kemampuan keterampilan. Kepintaran hanya sebagai bagian dari prestasi intelektualitas, yang tak bermakna apa-apa, jika dibiarkan berjalan tanpa prestasi moralitas dan spiritualitas.

Belajar Antikorupsi

M Quraish Shihab (1992) menunjukkan substansi model pendidikan yang menekankan keunggulan manusia. Manusia yang dibina adalah makhluk yang memiliki unsur-unsur material (jasmani) dan imaterial (akal dan jiwa). Pembinaan akalnya menghasilkan ilmu. Pembinaan jiwanya menghasilkan kesucian dan etika, sedangkan pembinaan jasmaninya menghasilkan keterampilan.

Belajar dari gagasan pakar ilmu tafsir itu, tampaknya model sekolah atau pendidikan unggulan, bertolok ukur standar nasional atau sekolah-sekolah bergaya internasional, bukan semata terletak pada keunggulan fasilitas atau pendidik bermerek luar negeri, tetapi juga sistem demokratisasi edukasinya yang implementasinya mampu menumbuhkembangkan (mengondusifkan) dan memprogresifkan pribadi anak didik menjadi manusia (pejuang) militan, yang sejak dini akrab dengan kebenaran, keadilan, dan perlindungan harkat kemanusiaan.

Anak didik bukan hanya unggul dalam membangun skill, tetapi juga unggul dalam keberdayaan moral (moral empowering) dan spiritualnya, khususnya dalam membangun kesalehan sosial, edukasi, dan kulturalnya. Apa gunanya memproduk anak-anak pintar, kalau dalam dirinya sarat penyakit seperti mengidap krisis komitmen moral, termasuk komitmen moral dalam membangun negara.

Komitmen membangun negara dapat dilakukan oleh manusia Indonesia yang sejak dini atau ketika mengikuti proses pembelajaran sudah dikenalkan dan diakrabkan dengan mentalitas mengutamakan kesehatan, keselamatan, dan kejayaan negara atau kepentingan publik (rakyat). Anak didik yang terlatih mengenal urgensinya sumberdaya negara dan perlindungannya, akan membuat pribadinya punya kepekaan untuk melindungi dan mengadvokasinya.

Praktik korupsi yang sedang marak di negeri ini, misalnya, harus dijadikan sebagai tema mata pelajaran substansial yang bisa dititipkan, diadopsi, dan diadaptasikan di berbagai sebaran mata pelajaran sebagai suatu das sollen yang secara moral bisa ditransformasi atau didiskursuskan sebagai suatu praktik yang bukan hanya menodai masyarakat dan bangsa, tetapi benar-benar potensial menghancurkan keberlangsungan hidup negara ini.

Teten Masduki menyebut, bahwa penyakit korupsi di Indonesia ini makin sistemik, ibarat kanker sudah kronis, karena bukan hanya sudah demikian parah memasuki relung dan jaringan kekuasaan (eksekutif) mulai dari bawah hingga ke lingkaran elite, tetapi tingkat agregasi korupsinya juga semakin eskalatif ke lingkaran yang lebih sistemik dan profesional, termasuk ”menjamah dan menjarah” dunia pendidikan.

Kalau sudah begitu, yang perlu dikedepankan adalah membudayakan praksis pengajaran di sekolah yang bersubstansikan pendidikan mentalitas antikorupsi, antidusta, antianomali, antimalversasi, atau antiberbagai bentuk praktik kroni, supaya kelak kalau mereka (anak didik) sudah lulus dan dipercaya mengisi bursa kepemimpinan di berbagai lini kekuasaan, dalam dirinya sudah tertanam kuat mental pejuang militan, yang tak takut menghadapi berbagai bentuk godaan dan ancaman.

Pengenalan pada anak didik tentang bahaya korupsi juga wajib diikuti dengan beberapa teladan konkret di lingkaran lembaga pendidikan yang menumbuhkan budaya menjauhi dan memusuhi perilaku menyimpang seperti korupsi moral, korupsi jam pelajaran, korupsi dana BOS, dan berbagai praktik lainnya. Itu menyiapkan mereka menjadi pemimpin bangsa. (Sumber: Surya, 2 Juni 2010)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: