PENGALAMAN BELAJAR DI OXFORD UNEVERSITY UK

DSC_0287LAPORAN HARI KETIGA

Senin, 8 Desember 2014

IN HOUSE TRAINING ABOUT TEACHING METODOLOGY

Bismillahirrahmanir rahiim, Denan menyebut nama Allah yang maha pengasih dan penyayang. Pada hari Senin, 8 Desember 2014 kami mengikuti training metodolgi pembelajaran bersama beberapa pakar pendidikan dari Oxford University, topik dalam training hari pertama diantaranya :

WAKTU KEGIATAN TRAINER
09.00 – 10.30 Workshop

Introduction to Reflective Practice

Dr. Nigel Fancourt

(Ketua Departemen Pendidikan Program Degree S1. Oxford)

10.30 – 12.00 Workshop

Observing and Reflecting

Dr. Nigel Fancourt
12.00 – 13.30 Rehat
13.30 – 05.00 Seminar :

What to Expect Relegion Education (RE) in England

Dr. Liam Gearon
15.30 -17.00 Teacher Led Seminar

What to Expect :

Teacher’s View

Emily Hoyland

(Majlis Pendidikan Kota Oxford)

            Pada materi ke-1 yaitu reflective practice. Dr. Nigel Fancourt mengajarkan kita tehnik Reflective sebagai awal dari pelaksanaan training. Karena kita guru PAI. Maka kita diminta untuk mengadakan kegiatan reflective practise yaitu mengingat kita sebagai murid saat kita diajar oleh guru kita dulu. Ada 4 pertanyaan yang diajukan oleh beliau, diantaranya :

  1. Pengalaman belajar agama di sekolah dulu, bagaimana cara guru kita mengajar ?
  2. Apa saja yang sudah kita dapatkan dari belajar agama dulu?
  3. Apa yang anda harapkan dari murid anda sekarang setelah anda mengajari mereka agama ?
  4. Apa anda ingin mengajar mereka seperti metode guru anda dulu mengajari agama kepada anda ?

Pertanyaan di atas bagian dari tehnik reflective practise dari training guru. Kita diajak ke masa lalu, kita diminta mengingat-ingat metode guru kita mengajari kita, sikap guru saat mengajar, pola pembelajaran guru dan dihubungkan dengan tugas keseharian kita sekarang sebagai guru.

Kegiatan Refleksi juga mengajari kita mengambil hal-hal positif apa yang sudah kita kerjakan dan harus ditingkatkan dan hal yang negatif apa yang harus kita tutup dan kita ganti dengan yang lebih baik lagi sesuai dengan perkembangan tingkat tahapan pertumbuhan anak serta sesuai dengan perkembangan dunia yang modern.

Ide kegiatan reflektive diambil oleh Dr. Nigel dari teori Donal Schon (1983) bahwa kegiatan ini akan menghasilkan ide-ide baru dan segar yang sangat dibutuhkan oleh kaum profesional, biasanya dilakukan diakhir sesi pelajaran, akhir hari sebelum pulang bekerja dan bisa juga dilaksanakan pada hari libur.

Pada materi 2. Dr. Nigel melanjutkan hubungan antara kegiatan Observing dan kegiatan Reflecting. Diharapkan kita mengenal berbagai macam tehnik observasi dan penelitian terhadap apa saja yang ada di ruang kelas, serta mengenal berbagai hal yang diperlukan dalam membuat analisa tentang kegiatan di dalam kelas.

Pada materi ke 2 ini, kita diajari untuk melaksanakan observasi di dalam kelas, bisa dengan tehnik observasi langsung, observasi bisa bersifat sehari atau seminggu tergantung keperluan, bisa melalui Vidio, audio , interview baik kepada individu atau kepada kelompok baik kepada siswa atau guru.

Pada kegiatan ini, peserta di ajak mengamati gambar berbagai pola anak di dalam kelas, ada 7 gambar yang harus diamati oleh masing-masing kelompok, tindakan pertama adalah Think. Kita diminta memirkan apa saja yang ada di gambar. Tindakan ke 2. Pare. Kita dan kelompok menulis 4 pertanyaan di masing-masing gambar bergantian dari satu meja ke meja yang lain. Tindakan yang ketika Share. kita saling berdiskusi, kita diminta memilih 3 pertanyaan saja yang ada di gambar kita yang bisa menjelaskan permasalahan semua gambar. Dari diskusi ini kita bisa mengambil berbagai hal yang kita akan gunakan dalam kegiatan kunjungan langsung ke sekolah besok harinya. Kita sudah mempunyai gambaran berbagai pertanyaan dan sudut pandang berbagai hal tentang siswa, guru, metode, manajemen dll yang siap kita gunakan untuk observasi dan mengambil analisa dalam kegiatan kunjungan ke sekolah, tempat bersejarah dan lain-lainnya.

Materi yang ketiga yaitu sejarah pendidikan agama di Inggris yang disampaikan oleh Dr. Liam Gearon. Inti dari tahapan sejarah pendidikan agama di Inggris dapat diuraikan sebagai berikut :

  1. Inggris mewajibkan warganya untuk sekolah secara resmi melalui undang-undang tahun 1870 ketika gerakan revolusi industri di berbagai kota di Inggris dan eropa merebak dengan berdirinya berbagai macam pabrik, sehingga membutuhkan banyak tenaga terampil. Namun pada era sebelumnya menurut sejarah di Inggris pendidikan sudah dilaksanakan 1000 tahun sebelumnya yaitu oleh gereja-gereja di Inggris.
  2. Pada tahun 1944. Pemerintah memperbolehkan distrik-distrik tertentu mengembangkan kurikulum tersendiri namun tetap mengacu pada kurikulum nasional. pendidikan skuler
  3. Pada era 1960-1970 dengan banyaknya para imigran dari seluruh belahan dunia datang ke Inggris, maka pemerintah mulai mencari jembatan nyata menghubungkan berbagai agama yang dianut oleh warganya baik yang asli atau kaum imigran,
  4. Pada tahun 1975 pemerintah mengajarkan pendidikan agama untuk semua agama yang dianut warga, terutama di negara bagian Birmingham. Sekolah wajib mengajarkan pendidikan agama yang berisi pengetahuan berbagai macam agama. Jadi pelajaran agama disini tidak dimaksud untuk mengajari agama kepada siswa sesuai agamanya dan diajarkan oleh guru yang sesuai agamanya, namun lebih bertujuan untu hidup harmonis
  5. Pada tahun 2004 Pemerintah Inggris secara resmi mewajibkan pendidikan agama bagi seluruh siswanya yaitu pendidikan agama yang belajar tentang agama-agama besar di Inggris yaitu kristen, Islam,budha, Hindu, Sikh, Yahudi termasuk juga paganism, Zoroaster dll.

Di Inggris, penyelenggaraan sekolah di bagi menjadi 2 sekolah negeri dan sekolah swasta, di sekolah negeri pendidikan agama atau disebut RE. Diajarkan 1 jam perminggu sedang di sekolah swasta atau sekolah keagamaan bisa lebih namun tetap ada batas-batas tertentu yang diperkankan oleh majlis pendidikan. Selain itu, yang perlu kita tahu bahwa agama asli bangsa Inggris adalah Kristen, bahkan menjadi agama resmi kerajaan Inggris. Karena itu liturgi atau kita sebut tata urutan doa atau ibadah terutama di sekolah negeri adalah berdasarkan ajaran agama Kristen bahkan di setiap sekolah ada belajar moral atau disebut reading text book di gereja dan itu wajib untuk semua siswanya.

Materi yang ke-4 yaitu Teacher’s View yang disampaikan oleh Emily Hoyland, seorang praktisi di Chaney School. ia memperkenalkan pembelajaran guru berbasis DNA, yaitu Daily Now Activity. Dimana sebagai guru harus menyiapkan lesson plan yang berisi kegiatan pembelajaran dalam setiap hari.

Menurut emily, yang harus dilakukan oleh guru dalam membuat lesson plan adalah membuat tujuan pembelajaran (objective Learning) menurut tata urutan kemampuan yang di tulis oleh Blom mulai dari mengingat, memahami, menganalisa sampai mencipta. Dalam Lesson Plan kita juga membuat simulasi sebuah kegiatan pembelajaran yang menarik dan membuat anak aktif dalam komunitas belajar yaitu melalui diskusi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: