Indonesia (Mesti) Membaca Buku

Rata-rata banyaknya buku yang dibaca siswa sekolah di Indonesia nol setiap tahunnya. Hasil penelitian Taufik Ismail, penyair terkenal Indonesia, lebih dari satu dekade itu menggambarkan betapa rendahnya minat baca masyarakat Indonesia.

Buku yang dimaksud dalam pengertian Taufik adalah buku sebagaimana di barat disebut sebagai literatur, yang secara mudah bisa diartikan sebagai karya sastra.

Saat itu, Taufik menjajarkan hasil temuannya dengan data serupa yang ada di negara lain.

Menyebut beberapa saja dari data itu, siswa sekolah di Amerika Serikat ratarata membaca 32 buku setahunnya.

Sedangkan negeri tetangga, Singapura, 12 buku per tahun.

Dengan lebih sinis, kita bisa katakan bahwa siswa sekolah saja, yang kegelisahan dan persoalan utamanya adalah tentang buku dan pelajaran, tidak pernah membaca buku, lalu bagaimana dengan jutaan manusia Indonesia yang bukan siswa sekolah? Barangkali kita hanya bisa mengelus dada.

Data penelitian yang layak dipercaya memang belum ada.

Namun, dari pencitraan yang dapat ditangkap secara kasat mata, beberapa pihak yang berkecimpung di dunia buku, tampaknya ada sedikit kabar baik.

Mereka sepakat mengatakan telah terjadi perkembangan yang signifikan terhadap minat baca masyarakat.

Menurut salah seorang Dewan Redaksi Penerbit Kanisius Yogyakarta, Ranggabumi Nuswantoro, peningkatan minat baca masyarakat telah dimulai semenjak reformasi 1998, dengan terbukanya keran kebebasan saat itu.

Ukurannya, secara mudah bisa dilihat dari perkembangan dunia penerbitan yang semakin meriah.

“Dari hari-hari itu, jumlah penerbit terus berkembang.

Regulasi pemerintah untuk menerbitkan buku juga semakin mudah, termasuk untuk mendapatkan ISBN,” katanya akhir pekan lalu.

Hal yang sama juga dilansir Kepala Seksi Pengelolaan Perpustakaan Kota Yogyakarta, Afia Rusdiana.

”Dulu, di perpustakaan Yogya, jumlah pengunjung per harinya tak sampai 10, sekarang, tiap hari minimal dikunjungi 250 orang.

Dan buku yang paling banyak dibaca adalah buku-buku sastra.” Cok Sawitri, salah seorang pengarang terkenal Bali, mengatakan pada zamannya, untuk mencari buku mesti ke Yogya.

Tapi sekarang, di Bali, khususnya Denpasar, sudah berdiri megah Toko Buku Gramedia dan toko-toko buku kecil lain yang jumlahnya lumayan.

“Adanya toko buku tentu saja memudahkan akses dan menandakan ada pasarnya.

Pada gilirannya, minat baca masyarakat Bali juga meningkat pesat,” jelasnya.

Aktivitas Intelektual

Membaca adalah aktivitas yang datang setelah menulis.

Ia lebih biasa-biasa saja, lebih tak kentara, lebih intelektual.

Itu adalah kalimat yang dibikin oleh pengarang besar Argentina, Joerge Luis Borges, untuk menggambarkan bagaimana membaca adalah sesuatu yang sangat mulia, sangat penting.

Ranggabumi mengatakan peran vital buku tidak hanya karena buku mampu mendokumentasikan berbagai pemikiran seseorang atau sekelompok orang dalam bentuk tertulis, yang berarti lebih awet, tahan lama, bisa dinikmati siapa saja.

Tetapi juga karena aktivitas-aktivitas yang berhubungan dengan buku memacu orang untuk meningkatkan kualitas hidup.

“Apa saja aktivitas yang berhubungan dengan buku, yakni menulis, membaca, dan berdiskusi,” jelasnya.

Dengan melakukan ketiga aktivitas di atas, lanjut Rangga, seseorang akan berada dalam situasi intelektual yang paling penuh, yang memungkinkan dirinya melakukan lompatan-lompatan dalam hidupnya, yang secara kolektif mampu menimbulkan perubahan budaya.

Hal itu bahkan dipahami dengan benar para pemimpin paguyuban Malioboro yang membawahi paguyuban tukang becak hingga paguyuban pedagang kaki lima.

Problem jalanan yang terentang dari kriminal hingga peningkatan nilai penjualan, ternyata tak bisa diselesaikan kalau hanya mengandalkan pemerintah dan penyuluhan para petugasnya.

“Maksud saya, sering kali penataan fisik bagi kalangan bawah ini jadi sesuatu yang utama, padahal menata intelektualitas dan hati mereka juga sangat penting,” kata Sujarwo Putra, pemimpin gabungan berbagai paguyuban yang ada di Malioboro Yogya.

Sujarwo ingin mengatakan membaca buku adalah aktivitas aktif yang menuntut para pedagang menggunakan perhatiannya, pikirannya, imajinasinya.

Berbeda dengan penyuluhan yang sering kali hanya satu arah. “Buku adalah panglima, kendaraan untuk orang bikin arif,” katanya.

Kita juga pantas bersyukur jika melihat panggung politik Indonesia mulai menampakkan sinar kecil yang menerangi dunia politik.

Tempur antar pendukung partai, kata-kata buruk anggota Dewan, jadi pelajaran paling buruk.

Sinar kecil itu kini menampakkan sisi dunia politik yang lebih intelektual, yakni perang tanpa otot, namun melalui buku.

Setelah Bentang Budaya menerbitkan Gurita Cikeas tulisan George Junus Aditjondro, tak lama setelah itu, buku bantahannya keluar.

Lantas, mantan Kabareskrim, Komjen Pol Susno Duadji, menerbitkan bukunya, yang berjudul Mereka Menuduh Saya.

Tak butuh waktu lama, buku jawaban keluar, ditulis oleh Syahril Djohan.

“Dengan buku berbalas buku, masyarakat akan terbiasa dengan polemik yang sifatnya intelektual.

Dengan cara itu sesungguhnya masyarakat sedang menuju masyarakat maju,” kata Direktur Penerbitan Bentang Budaya, Julius.

Julius mengatakan buku bisa menjadi ruang alternatif untuk membuat perubahan sebuah bangsa.

Sebab, katanya, ruangruang lain lebih rentan terhadap kontaminasi kekuasaan dan rendahnya keterlibatan masyarakat.

“Media massa kan juga tak lekang oleh waktu, sedang buku bisa bertahan lama, dan sifat pembahasannya komprehensif, sehingga masyarakat pembaca mendapat gambaran yang utuh dan lengkap.

Dengan adanya buku bantahan, itu justru membuat masyarakat akan sadar bahwa informasi mesti mereka olah, itu jadi cerdas kan,” papar Julius.

Namun, segala citra perkembangan dunia buku dan tingkat baca masyarakat di atas tak sepenuhnya tanpa soal.

Cok Sawitri mengeluhkan problem buku-buku terjemahan yang kualitas terjemahannya buruk.

Penulis naskah yang berbobot juga belum mendapatkan tempat karena tidak banyak laku di pasaran.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: