IFDHAL KASIM-Penegak HAM

Generasi Baru Penegakan HAM

Tokoh Muda Inspiratif Kompas 2009 (17)

Ibarat tari Randai, tarian tradisional asal Minangkabau, Sumatera Barat, upaya penegakan hak asasi manusia serta penuntasan kasus pelanggaran HAM berat masa lalu diyakini tidak bergeser ke mana-mana walau seolah ada banyak hal telah dilakukan.

Menurut Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Ifdhal Kasim, dalam tari Randai seorang penari memang terlihat aktif bergerak. Namun, jika diperhatikan, si penari sebetulnya tidak bergeser jauh dari awal tempatnya memulai tarian.

Namun, Ifdhal juga mengaku optimistis gelombang regenerasi kepemimpinan yang bakal terjadi di negeri ini dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama nanti bakal mengubah banyak hal dan akan membawa Indonesia ke arah yang jauh lebih baik dari sekarang.

Setidaknya dalam lima tahun mendatang, tambah Ifdhal, mereka yang maju dan memegang tampuk kepemimpinan adalah orang-orang dari generasi yang lahir dan besar pada era 1960-an dan 1970-an.

Generasi seperti itu relatif tidak punya terlalu banyak ”tabu” sejarah ataupun politik jika dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Sekarang generasi yang tengah memegang tampuk kekuasaan dan kepemimpinan adalah orang-orang yang lahir pada era 1940-an dan 1950-an.

Seperti dipahami bersama, pada kedua era tersebut terjadi banyak perseteruan, perselisihan, pertikaian, bahkan pemberontakan berlatar belakang politik dan ideologis, di mana mereka yang terlibat dipaksa masuk ke dalam sekat-sekat pembeda satu dengan yang lain.

Berikut petikan wawancaranya dengan Kompas saat ditemui beberapa waktu lalu di ruang kerjanya di Kantor Komnas HAM, Jakarta.

Bagaimana Anda melihat kondisi sekarang, terutama terkait upaya penuntasan berbagai kasus pelanggaran HAM berat?

Memang kesannya sudah banyak hal dilakukan, seperti upaya membentuk Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi, yang akhirnya gagal atau pembentukan Komisi Kebenaran dan Persahabatan (KKP) Indonesia-Timor Leste.

Banyak hal sepertinya dilakukan, tetapi tidak ada dampak signifikan dari semua itu pada upaya penuntasan kasus pelanggaran HAM berat masa lalu. Masyarakat masih belum puas karena mereka masih belum merasakan adanya keadilan seperti mereka inginkan.

Kondisi ketidakpuasan seperti itu juga, terutama, sangat dirasakan oleh para korban pelanggaran HAM berat masa lalu, termasuk keluarga mereka.

Anda bisa lihat, sampai sekarang para korban pelanggaran HAM berat masa lalu, seperti terkait peristiwa 1965, Talangsari, Tragedi Mei 1998, dan banyak lagi, mereka semua masih berdemonstrasi setiap hari Kamis di depan Istana Negara untuk menuntut keadilan.

Kondisi seperti itu juga menunjukkan adanya stagnasi di pemerintahan sampai sekarang. Stagnasi terjadi karena pemerintah, terutama aparat hukum, masih menggunakan cara dan paradigma berpikir masa lalu.

Seperti apa cara berpikir lama itu?

Aparat pemerintah masih melihat upaya penuntasan berbagai kasus pelanggaran HAM berat masa lalu seolah upaya untuk membuka kembali ”luka lama”. Hal itu mereka yakini dapat membahayakan persatuan serta kesatuan bangsa dan oleh karena itu harus ditutupi saja.

Lantas, bagaimana regenerasi bisa memperbaiki keadaan?

Bisa dipastikan, lima tahun ke depan tampuk kepemimpinan di berbagai lini di republik ini akan diisi oleh mereka yang lahir dan berasal dari era tahun 1960-an dan 1970-an, di mana relatif tidak ada beban atau kenangan traumatis masa lalu seperti dialami generasi sebelumnya tadi.

Mereka yang lahir pada era 1940-an dan 1950-an tumbuh dewasa dalam situasi dan suasana yang dipenuhi gejolak serta persoalan politik dan latar belakang sejarah masa lalu macam, misalnya, kenangan traumatis peristiwa 1965 dan 1966.

Akibatnya, semua kejadian tadi membentuk kerangka dan cara berpikir generasi itu, terutama soal bagaimana menurut mereka negara harus dijalankan dan diperlakukan.

Kondisi serupa tidak akan kita temui di generasi selanjutnya, era 1960-an dan 1970-an, yang punya cara berpikir dan impian yang benar-benar berbeda.

Generasi baru lebih punya ketertarikan untuk mewujudkan berbagai keinginan para pendiri bangsa (the founding fathers), terutama soal bagaimana mewujudkan adanya kepastian serta komitmen mewujudkan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Selain itu, mereka juga punya kepedulian pada persoalan-persoalan yang tidak lagi sekadar internal, melainkan juga berkonteks regional dan global macam terkait persoalan pemanasan global dan lingkungan hidup.

Hal seperti itu dimungkinkan mengingat generasi baru tersebut sudah tidak lagi punya beban historis masa lalu, seperti berbagai macam ”tabu” politik atau sejarah ala Orde Baru yang dahulu sangat membebani generasi lama.

Dengan kondisi yang lebih leluasa seperti itu, generasi baru bisa lebih leluasa dan terbuka terhadap gagasan tentang keadilan, lebih sensitif pada isu jender dan persamaan hak atau derajat, serta peduli pada isu pluralisme.

Mereka juga jauh lebih sadar pada ancaman baru yang akan dihadapi dunia pada masa mendatang. Sesuatu yang hampir tidak pernah terpikirkan oleh generasi sebelumnya, seperti kelangkaan sumber daya, pemanasan global, disparitas pendapatan, dan banyak lagi.

Jadi, bukan lagi ancaman bersifat ideologis. Yang namanya label ”kiri” atau ”kanan” hanya populer di masa lalu. Orang tidak lagi akan bicara soal ideologi. Bahkan, dalam sentimen neoliberalisme kemarin pun lebih terkait masalah yang nonideologis, memenangkan peperangan ideologi di satu negara.

Secara konkret, apa bisa dilakukan untuk memperbaiki keadaan?

Kita harus mampu memperkuat dan memperbaiki institusi penegakan hukum utama. Walau bagaimanapun, kehadiran berbagai komisi macam Komnas HAM atau Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), kan, hanya sebatas mempercepat proses reformasi.

Apa waktu lima tahun cukup?

Saya beranggapan seharusnya dalam lima tahun ke depan upaya reformasi terhadap institusi penegakan hukum di Indonesia, seperti di kejaksaan, kepolisian, dan pengadilan, sudah jauh lebih baik. Misalkan di kepolisian, generasi baru mereka, kan, sudah bukan lagi produk dari pendidikan institusi kepolisian yang masih di bawah militer seperti pada masa lalu. Dengan kondisi seperti itu, para polisi dari generasi baru diharapkan akan punya perspektif berpikir yang sangat berbeda.

Selain itu, para polisi dari generasi baru tersebut diharapkan juga akan lebih mencerminkan keberadaan mereka sebagai aparat penegak hukum ketimbang aparat represif negara, seperti ketika institusi kepolisian masih berada di bawah kendali militer.

Dari sana kemudian diharapkan, penyelesaian atas berbagai kasus pelanggaran HAM berat masa lalu, yang selama ini mengalami kebuntuan akibat kentalnya nuansa politis, bisa jauh lebih cair pada masa mendatang.

***

Ifdhal Kasim

• Pendidikan:
Umum:
– Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (1990)
Khusus:
– Latihan tentang hak asasi manusia di Filipina
– Lokakarya tentang hak ekonomi, sosial, budaya di Bangkok
– International Human Rights Advocate, Montreal, Kanada (1996)
– International Human Rights Law, Universitas Columbia, New York (1997)
– International Human Rights Court, Universitas Oslo, Norwegia (2003)

• Perjalanan Karier:
– Pengacara bidang HAM
– Editor dan penerjemah buku-buku yang mengupas tentang demokrasi, hukum, dan HAM
– Anggota Tim Drafting Departemen Hukum dan HAM untuk RUU Perlindungan Saksi dan Korban dan RUU Antiterorisme
– Membentuk kantor pengacara di Solo (1991-1992) – Direktur Program Hukum dan Legislasi Reform Institute (2005-2007)

• Kegiatan Lain:
– Bergabung dengan Elsam (1992-2005)

• Publikasi:
– Buku: The Rome Statute: The International Criminal Court; Editor dan penerjemah (2000)
– Buku: The Victim’s Rights; Editor dan penerjemah (2002) – Buku: Justice vs Truths: The Accountabality for the Past Human Rights Violation; Editor (2003)

Sumber:http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/11/16/03281549/generasi.baru.penegakan.ham
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: