KEPERCAYAAN TERHADAP GURU DALAM UNAS PADA TITIK TERENDAH

Jika kita memperhatikan berbagai kecurangan dalam penyelenggaraan ujian nasional tahun 2009 maka insan pendidikan Indonesia patut bersedih, bagaimana mungkin, guru yang seharusnya layak digugu dan ditiru, namun justru  menjadi otak kecurangan, meskipun tindakannya tersebut dilandasi semangat tanggung jawab untuk meluluskan anak didiknya.

Indikasi berbagai modus kecurangan ujian nasional yang dilakukan para guru tahun 2009 dibeberkan oleh Eko Budi Djatmiko, Kordinator pengawas Ujian Nasional (UN) Perguruan Tinggi Negeri (PTN) Jawa Timur di hadapan perwakilan Dinas Pendidikan serta Polwil dan Polres se-Jatim di Kantor Dinas Pendidikan Jawa Timur, Rabu (17/3)  antara lain, pembagian kunci jawaban, pergantian jawaban, dan keterlibatan guru.( http://www.surya.co.id, kamis, 18 Maret 2010)

Tim Pengawas juga mencatat indikasi penyebaran kunci jawaban kepada siswa, sebelum ujian dimulai, bahkan akurasi kebenaran kunci jawaban itu mendekati 100 persen. Keterlibatan guru dalam kecurangan terlihat juga saat membiarkan peserta Ujian Nasional saling mencontoh, ada guru yang lebih dulu mengoreksi hasil LJUN (Lembar Jawaban UNAS) siswa sebelum amplop LJUN disegel. Guru ini beralasan mengoreksi kebenaran pengisian data siswa. Padahal, ditemukan kopi LJUN yang sudah dijawab dan dilubangi dengan rokok. Selain itu, juga ditemukan pengawas ruangan maupun peserta ujian yang membawa ponsel di ruang ujian serta ditemukannya jawaban sama di satu sekolah.

Polisi Dalam UNAS

Untuk mengantisipasi terjadinya kecurangan dan pelanggaran hukum selama Ujian Nasional tahun ini, hampir seluruh wilayah baik provinsi maupun kabupaten/kota melibatkan personel kepolisian untuk mengawal keamanan dari mulai pengamanan proses cetak soal di percetakan, proses distribusi, proses penyimpanan, proses pembagian, bahkan sampai pada hari pelaksanaan ujian. Bahkan Polda Jatim lewat operasi cendikia 2010 melibatkan 1100 polisi dalam pelaksanaan UNAS 2010 (http://www.surya.co.id, kamis 11 Maret 2010)

Yang menjadi pertanyaan besar kita adalah sampai sejauh inikah hilangnya kepercayaan masyarakat Indonesia termasuk para pimpinan Dinas Pendidikan baik Pusat, provinsi, maupun kabupaten terhadap guru.

Hilangnya kepercayaan terhadap guru dalam pelaksanaan ujian nasional dirasa sangat wajar jika melihat rentetan banyaknya peristiwa terjadinya kecurangan dalam setiap pelaksanaan ujian nasional sebelumnya  yang dilakukan oleh oknum guru dengan berbagai alasannya, baik alasan karena kasihan siswa jika tidak lulus ataupun alasan untuk menjaga reputasi nama sekolah.

Paradigma parameter keberhasilan pelaksanaan ujian nasional tahun 2010 juga berubah dari parameter besarnya prosentasi kelulusan menjadi parameter prosentasi kualitas penyelenggaraan yang bersih dan jujur. Hal ini disampaikan wakil Mendiknas Fasli Jalal. Ia berpendapat, Bukan kelulusan 100 persen yang jadi tujuan utama, tapi Ujian Nasional yang jujur dan bersih itu jauh lebih penting.( http://edukasi.kompas.com, tanggal 18 Maret 2010)

Semangat baru yang diusung oleh Wakil Mendiknas tersebut seharusnya harus didukung sepenuhnya oleh para guru sebagai ujung tombak pelaku pendidikan. Kiranya dengan melaksanakan ujian nasional yang sebersih dan sejujurnya kepercayaan masyarakat kepada guru akan pulih kembali. Namun jika sebaliknya maka runtuhlah kepercayaan kepada guru.

Oleh Mudzakkir (Guru SDN Menanggal 601 Surabaya, sekretaris KKG PAI Kota Surabaya, Alumni Magister Kebijakan Pendidikan UMM Malang)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: