PENGALAMAN SHORT COURSE DI OXFORD UNIVERSITY UK (2)

LAPORAN HARI KEDUA

Minggu, 7 Desember 2014

Penjelajahan di Kota Oxford

Oleh

Mudzakkir Hafidh

Setelah beristirahat semalaman di hotel Holiday Inn, hari ini pagi hari, minggu 7 Desember 2014, sesuai jadwal kegiatan hari ini para guru akan mengadakan penjelajahan di kota Oxford yang jika ditempuh dengan kendaraan umum diperkirakan butuh 15 menit dari hotel, rombongan akan naik bis umum dari halte bis dekat hotel kurang lebih 100 meter.

DSC_0142DSC_0145

Oxford adalah kota pelajar bisa ditempuh dalam waktu 1 jam dari kota London dengan bis kota atau kereta. Tepat jam 08.30 kami dan rombongan siap-siap berjalan menuju terminal kecil depan Hotel Holiday Inn Oxford, kami merencanakan naik bus kota, dengan membayar 2,25 perorang kami sudah mendapat tiket PP dari hotel ke Oxford dan kembali dari Oxfor ke hotel. Uniknya sebagaimana yang saya lihat di berbagai bis kota lain disini, para penumpang menunggu di halte-halte yang sudah ada, ketika bus datang kita mengantri masuk satu persatu dan membayar langsung ke supir bus yang memang di depannya sudah ada alat pembayaran otomatis dan langsung keluar tiketnya ketika kita sudah membayarnya, tiket harus disimpan karena kalau hilang maka kalau pulang harus membeli kembali.

Perjalanan yang menyenangkan, bis menyusuri jalanan yang mulus, bagus dan tidak ada kemacetan, sayapun tidak tahu jalanan ini jalan bebas hambatan atau kita sebut tol atau jalan umum biasa, tapi kalau kita lihat seperti jalan tol di Indonesia. Perjalanan ke Oxford dari hotel Holiday Inn membutuhkan waktu 15 menit.

Takjub dan kagum itu yang ada dalam benak kami ketika tiba di kota Oxford, wah…sejauh mata memandang, kita dihamparkan pada bangunan-bangunan bersejarah, unik dan terawat rapi. Mengingatkan kita ketika melihat Film Harry Potter atau Lord Of The Ring. Dan memang katanya film harry Potter salah satu latarnya menggunakan bangunan tua disini.

Kami berkelompok berjalan menuju ke Gereja Tua yang eksotis kayak benteng, kalau kita lihat film Hercules. Kami pun kebingungan memilih ke bangunan mana yang akan kita kunjungi karena bangunan di kota Oxford semua layak dikunjungi dan diambil gambarnya. Dalam hati kecil saya bertanya mengapa pemerintah Indonesia tidak bisa merawat tempat-tempat bersejarah sebagaimana pemerintah Inggris atau pemerintah Kota Oxford. Waduh, saya jadi sedih. Namun kesedihan itu hilang dengan kesibukan kami mengunjungi bangunan-bangunan bersejarah yang setiap harinya digunakan untuk menjadi tempat kuliah mahasiswa Universitas Of Oxford dengan 38 jurusan. Menurut catatan kami, bangunan-bangunan ini diperkirakan dibangun sejak tahun 1096.

Kota Oxford menjadi objek wisata bersejarah di negara ini, kalau kita sudah sampai di London dan tidak singgah di Oxford rasanya kurang lengkap. Kota ini sangat bersih, udaranya juga segar,bangunan-bangunan tua itu kelihatan rapi dan terawat. Bahkan pengunjung bisa masuk ke berbagai gereja dan musium serta perpustakaan di kota ini, ada musium of Art and Archeology, musium of Natural History, musium Pitt Rivers, perpustakaan Bodleaian, dll.

Sayangnya dengan kunjungan sehari bahkan hanya 6 jam mulai jam 09.00 sampai jam 15.00 tentu tempat bersejarah yang kami kunjungi sangat terbatas. Namun kunjungan dihari ini cukup memberikan gambaran betapa hebatnya negara ini. Perlakuan terhadap benda-benda bersejarah bisa di tiru oleh pemerintah kita, bahkan bisa mendatang devisa bagi negara yang berasal darai para turis baik domistik atau asing, bahkan kehidupan ekonomi tumbuh di daerah itu karena ada insdustri pendidikan dan industri pariwista.

Kehidupan keagamaan di Kota Oxford atau umumnya di negara Inggris. Masyarakat bisa hidup rukun antar agama, ras dan suku bangsa. Para pelajar dan kaum imigran datang dari berbagai negara ke Inggris dan memberikan warna dalam akulturasi budaya yang sangat hiterogin namun harmonis. Islam menjadi salah satu agama terbesar di Inggris selain tentunya agama Kristen yang menjadi agama awal penduduk Inggris. Selain itu ada agama Hindu, Budha, Paganism, Zoroaster, yahudi dll, bahkan banyak penduduk yang masih belum mempunyai agama atau atheis. Namun mereka hidup rukun dan saling menghormati (Bersambung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: