APA SEBABNYA ANAK EMOSINYA TINGGI

September 24, 2018

Kadangkala ada anak yang emosinya suka tinggi terutama pada mamanya, kalau di nasehati, huh. emosinya yang langsung naik. padahal kalau di sekolah anak tersebut terlihat alim dan pendiam pada temannya, bahkan ketika ada temannya yang jahil atau mengganggunya ia kadang menangis, paling tidak ia diam saja dan tidak berani membalas. seakan ia takut ketika temannya membalas dengan perilaku yang serupa, pendek kata, anak ini beraninya hanya di rumah namun di sekolah ia cengeng.

Tahu jawabannya? simak ya…

Jikalau kita punya anak seperti itu, artinya kita kurang punya wibawa di hadapan anak tersebut,  yang kedua anak tersebut biasanya kurang mandiri karena kita sebagai orang tua juga kurang melatih dengan serius sifat kemandirian pada anak. orang tua cenderung menuruti dan melayani kepentingan anak.

Solusinya. ayo kita latih agar kita lebih berwibawa di hadapan anak, adakalanya kita bersenda-gurau, adakalanya kita menjaga kedekatan (boleh dibilang jaim dikit he..he..) beritahu anak hak dan kewajiban orang tua, hak dan kewajiban anak. dan yang paling penting mari kita latih anak kita lebih mandiri, hindari layanan-layanan spesial pada hal-hal yang menurut kita hal itu bisa dikerjakan anak seusianya.

Demikian tulisan singkat ini, mari kita praktikkan bersama wahai ayah dan bunda, semoga anak kita lebih mandiri dan menghargai kita sebagai orang tua.

Oleh Mudzakkir Hafidh

Iklan

DAFTAR PUSAT TERAPI DAN SEKOLAH KHUSUS AUTISMA

Desember 11, 2013

DAFTAR PUSAT TERAPI & SEKOLAH KHUSUS AUTISMA

JAKARTA SELATAN

KITTY CENTRE
Pertokoan Bona Indah A2/A10
Jl. Karang Tengah Raya, Jaksel
Ph. 7655129

KYRIAKON
Jl. Kampung Baru VI No. 8 Ulujami, Jaksel
Ph. 9209066

Dwi Gantari Indonesia
(Bpk. Marjuki – Ibu Evie Sabir)
Jl. Benda III No. 27-27A Kebayoran, Jaksel
Ph. 7247211

Klinik Sasana Husada
Jl. Kyai Maja 19 (depan RS Pertamina), Jaksel
Ph. 7222410

Yayasan Balita Mandiri
Jl. T.B. Simatupang Raya Plaza III
Pondok Indah Blok. E2, Jaksel 12310
Ph. 75900181

Yayasan Pelita Hatiku (Ibu Rumondang)
Jl. Mandar XX Blok. DD 13 No. 37
Sektor 3 Bintaro Jaya, Jaksel
Ph./Fax. 021 – 7357646

Klub Terapi Autirsma (Bpk. Tamtam S.)
Pamulang Permai II Jl. Benda Barat 8A
Blok D15 No. 8 Pamulang
Ph. 7405462 Baca entri selengkapnya »


Usia Ayah Diduga Penyebab Autisme Anak

Oktober 31, 2012

Ada pembaca yang bertanya tentang sebab-sebab anak Autis, barangkali tulisan yang saya ambil dari tempo ini bermanfaat….

——————————————————————

TEMPO.CO, Jakarta – Autisme pada anak merupakan misteri dalam dunia kedokteran. Belum ada peneliti maupun dokter yang mengetahui penyebab anak mengidap autisme.

Tapi, baru-baru ini, jurnal medis Nature merilis sebuah penelitian yang menunjukkan pengaruh usia ayah terhadap peningkatan risiko autisme anak. Semakin tua usia si ayah, anak yang terlahir cenderung bakal berkembang dalam kondisi autisme. Baca entri selengkapnya »


Mendidik Anak Ala Positive Parenting

Juni 15, 2010

KOMPAS.com – Tidakkah Anda akan merasa lebih baik ketika orang yang otoritasnya lebih tinggi dari Anda, misal, orangtua atau bos bisa berbicara dengan nada yang nyaman? Tidakkah Anda akan merasa lebih bisa menerima ajaran atau masukan dari guru atau orang yang lebih tua dari Anda jika hal itu disampaikan dengan nada yang kalem? Begitu pun yang dirasa oleh anak Anda mengenai sikap orangtuanya. Dr. Adriana S. Ginanjar, Koordinator Klinik Terpadu Fakultas Psikolog Universitas Indonesia mengatakan, bahwa sikap positive parenting, bisa membantu menerapkan disiplin efektif dan interaksi menyenangkan antara orangtua dan anak. Baca entri selengkapnya »


Jika Suami dan Istri Berbeda Gaya Dalam Mendidik Anak

Juni 7, 2010

Ideguru. 7 Juni 2010

KOMPAS.com – Adalah hal yang sangat umum terjadi jika sepasang orangtua memiliki gaya mendidik anak yang berbeda. Misal, salah seorang dari orangtua memiliki sifat otoriter dan yang satunya lagi tipe santai. Jika tak segera disinkronisasi, anak-anak dan pernikahan Anda bisa menderita. Apa yang harus dilakukan?

Ketika gaya mendidik Anda berbeda dari pasangan, bisa terjadi ketegangan tinggi di antara Anda dan pasangan. Misal, Anda yang tak setuju dengan suami yang selalu memberikan “ancaman kosong” atau gertakan jika si kecil tidak mau diatur. Contoh, saat si kecil tidak mau diatur di supermarket, dan si suami mengancam tidak akan mengajak si kecil ke Dufan liburan nanti. Padahal, hal itu cuma gertakan kosong, dan pada saat liburan pun, si kecil tetap dibawa meski ia sempat nakal di supermarket. Sementara Anda, lebih percaya kepada kesepakatan yang realistis dan tak bisa membayangkan harus menghardik atau mengancam anak di tengah-tengah ruang publik.

Barbara Frazier, MSW, pekerja sosial dan terapis di Gaineville, Florida mengatakan, “Banyak pasangan yang berbeda dalam cara merawat dan mengasuh anak. Dan hal ini lama kelamaan akan menjadi masalah. Ini adalah hal yang wajar, namun yang perlu diperhatikan adalah seberapa besar perbedaannya.”
Baca entri selengkapnya »


Jadikan Mereka Pribadi Visioner

Mei 29, 2010

Oleh : M. Fauzil Adhim

Kita bisa mengajari anak-anak untuk menghafal dengan cepat dan membaca dengan lancar. Tetapi keterampilan melafazkan Al-Qur’an dengan benar tidak dengan sendirinya membuat anak-anak dekat hatinya pada Al-Qura’an. Bisa membaca dengan baik tidak sama dengan mampu mengambil petunjuk. Bahkan sekedar sadar bahwa Al-Qur’an merupakan petunjuk, pembeda dan penjelas pun belum tentu. Sebab, sangat berbeda antara memahami secara kognitif dengan dorongan spontan untuk selalu melihat bagaimana Al-Qur’an berbicara.
Baca entri selengkapnya »


Mengapa Usia 14 Disebut Fase Paling Berbahaya?

Mei 16, 2010
Mengapa Usia 14 Disebut Fase Paling Berbahaya?Masa remaja sering disebut dengan masa yang penuh ketidakpastian sekaligus masa pencarian jati diri. Sayangnya, tidak semua usaha tersebut dilakukan dengan cara yang positif. Itulah sebabnya peneliti dari Inggris menyebut masa itu fase kritis alias berbahasa.
Hasil riset yang digagas University College London (UCL) menyebutkan, terutama remaja usia 14 tahun dalam fase paling berbahaya ketika individu menginjak usia remaja.

Riset itu mengungkapkan diusia 14 tahun, sebagian remaja mulai gemar mengkonsumsi minuman keras, obat-obatan terlarang dan berprilaku seks tak sehat. Kecenderung macam itu dinilai peneliti lantaran kondisi remaja saat itu cenderung senang mengambil resiko. Baca entri selengkapnya »