ERA KEBANGKITAN MELALUI PENDIDIKAN

Mei 28, 2011

Satu lagi artikel yang enak di baca, di simak dan mungkin di renungkan bagi siapa saja warga negara ini, terutama bagi pengambil kebijakan yang setuju dengan liberalisasi pendidikan yang membuat pendidikan menjadi mahal..terutama di perguruan tinggi….ayo kita baca…

@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@

Oleh Purbayu Budi Santosa
Guru besar Fakultas Ekonomi Undip

KEBANGKITAN nasional saat ini semestinya dicatat sebagai momen penting untuk benar-benar membangkitkan semangat nasionalisme, dikaitkan dengan nasionalisme yang saat ini menurun drastis. Kita mestinya merasa malu bagaimana Indonesia yang dulunya anutan perkembangan bagi negara lain, sekarang justru dipandang begitu rendah oleh negara lain.

Sudah terbukti Malaysia bagaimana beraninya mempermainkan Indonesia dengan mengakui berbagai pulau kita sebagai miliknya, bahkan berbagai kesenian dan kekayaan lokal lainnya. Juga perlakuan semena-mena terhadap TKI dan kita sepertinya bungkam tidak berani protes.

Melihat kondisi tersebut, ada berbagai pihak yang prihatin, tetapi banyak yang acuh tak acuh tidak memikirkan masa depan Indonesia. Paling memprihatinkan adalah melihat negara Indonesia ada, masih merdeka, tetapi yang berkuasa adalah pihak lain. Banyak pihak khawatir nantinya rakyat kita hanya menjadi buruh dan budak dari pihak lain, sementara kekayaan kita pindah ke pihak lain. Bisakah pendidikan mengatasi hal tersebut?

Berbagai pihak berpendapat bahwa pendidikan adalah investasi masa depan, supaya kehidupan menjadi lebih baik. Kehidupan menjadi lebih baik bukan saja milik pribadi orang-orang yang menempuh pendidikan melainkan juga negara yang mendapat dampaknya dari orang-orang yang menjadi cerdas, bermoral, dan beretika serta mempunyai rasa nasionalisme tinggi.

Sejak kecil dalam lingkungan keluarga dan sekolah semestinya sudah diarahkan pada hal-hal itu. Kalau kita buka lembaran pendidikan awal 1970 -an ada berbagai pendidikan mengarah ke sana, misalnya muatan lokal dan peserta didik seperti saya yang berasal dari desa harus terjun ke sawah tiap hari tertentu, dan hasilnya dibagi dengan desa untuk membiayai berbagai keperluan ekstrasekolah.

Maksud pendidikan sepertiu itu sangat baik dalam arti mengenalkan peserta didik belajar bekerja dan mengenal lingkungannya. Pengenalan kearifan lokal berbagai daerah seperti belajar menyanyi lagu-lagu daerah sebagai keharusan dalam artian sebenarnya untuk mengenal keanekaragaman daerah.

Memang benar bahwa dalam tingkat kecerdasan orang Indonesia tidak kalah dari luar negeri, dari pendidikan dasar sampai perguruan tinggi. Kita dapat melihat bagaimana siswa atau mahasiswa Indonesia berkali-lagi menjuarai olimpiade sains di luar negeri.

Dari acara Kick Andy pun kita melihat bagaimana posisi puncak lembaga luar negeri banyak diduduki putra-putri terbaik Indonesia. Lantas kesalahan apa yang terjadi di Indonesia, sehingga pendidikan yang tingkatan pengajarannya tinggi, tetapi orang terbaik Indonesia malah banyak berkiprah di mancanegara?

Membawa Pembaruan

Penyebabnya adalah pendidikan di Indonesia terimbas oleh situasi karut-marut negara yang kurang percaya pada diri sendiri. Saran pihak asing bahwa subsidi adalah tidak baik, betul-betul merugikan dunia pendidikan Baca entri selengkapnya »


PENDIDIKAN KARAKTER, PERLUKAH?

Januari 19, 2011

Oleh Mohammad Abduhzen
Direktur Eksekutif Institute for Education Reform Universitas Paramadina Jakarta; Ketua Litbang PB PGRI

Seperti baru siuman, tiba-tiba dunia pendidikan kita diramaikan oleh gagasan tentang pentingnya pendidikan karakter. Pihak Kementerian Pendidikan Nasional telah menggelar sarasehan nasional, dan menjadikan pendidikan karakter sebagai arah dan muara pendidikan nasional. Berbagai pidato para pejabat serta tulisan para pakar dan praktisi pendidikan juga menyatakan hal yang sama.

Pementingan itu biasanya dihubungkan dengan keprihatinan terhadap berbagai situasi kemanusiaan dan kebangsaan kita dewasa ini, seperti merebaknya perilaku korupsi, dekadensi moral, keculasan politikus, dan kelembekan (para pemimpin) bangsa ini dalam menyikapi tindakan bangsa lain, di antaranya keagresifan negeri jiran di perbatasan; dan perlakuan terhadap warga negara kita di perantauan. Pendidikan karakter dengan muatan nilai mulia dan kesatria dianggap mampu memperbaiki kenyataan tersebut. Baca entri selengkapnya »


NASIB PENDIDIKAN GRATIS

November 2, 2010

Oleh Ibrahim Sakty Batubara
Anggota Komisi X Fraksi PAN DPR RI

Selama ini dalam persepsi masyarakat sudah telanjur terbentuk bahwa anggaran pendidikan minimal 20 persen akan secara langsung berimplikasi pada penyelenggaraan pendidikan gratis yang bisa dinikmati oleh setiap warga negara. Bahkan sebagian besar masyarakat meyakini bahwa layanan pendidikan yang mereka terima juga berkualitas karena didanai oleh anggaran yang cukup besar dalam anggaran pendapatan dan belanja negara.

Tapi masyarakat menghadapi kenyataan pahit karena mereka masih harus mengeluarkan biaya yang lebih mahal di sejumlah sekolah-sekolah yang justru berlabel sekolah gratis. Mereka dipusingkan oleh maraknya pungutan yang dilakukan oleh sejumlah sekolah, berupa uang gedung, uang karyawisata, uang LKS, uang buku, uang ekstrakurikuler, dan uang-uang sumbangan lainnya dengan berbagai dalih. Baca entri selengkapnya »


KABINET DAN PENDIDIKAN

November 2, 2010

Oleh Mochtar Buchori
Pengamat Pendidikan

Setahun sudah Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II yang dipimpin SBY-Boediono berjalan. Adakah perubahan yang dicapai bidang pendidikan selama periode ini?

Tentu dibutuhkan catatan panjang untuk mengevaluasi secara menyeluruh. Namun, setidaknya ada tiga hal yang ingin saya bicarakan di sini: perubahan yang menunjukkan kemajuan, perubahan yang menunjukkan kemunduran, dan masalah-masalah dasar yang terdapat dalam sistem pendidikan.

Di antara hal-hal yang menunjukkan kemajuan, saya mencatat antara lain—meski juga banyak dikritik—adalah banyaknya sekolah yang berhasil mendidik murid-muridnya mencapai prestasi internasional. Hal ini terutama ditunjukkan dalam berbagai olimpiade, terutama matematika dan IPA. Baca entri selengkapnya »


TRAGEDI BELAJAR ETIKA KE YUNANI

November 2, 2010

Oleh Triyono Lukmantoro
Dosen FISIP Universitas Diponegoro Semarang

Berbagai kecaman tidak melenyapkan ambisi Badan Kehormatan DPR berkunjung ke Yunani. Di negeri yang melahirkan filsuf-filsuf besar itu, kurun 23-30 Oktober 2010 sebelas anggota Badan Kehormatan (BK) DPR disertai seorang anggota staf ahli dan dua anggota staf administrasi berstudi banding tentang etika, tata tertib, tata beracara, serta buku pedoman. Pulang dari sana, BK diharapkan menghasilkan panduan yang baik tentang etika untuk diterapkan kepada anggota DPR.

Menurut Wakil Ketua BK DPR Nudirman Munir, Yunani dipilih sebab merupakan penganut sistem demokrasi paling tua. Juga supaya anggota BK tak jadi katak dalam tempurung. Lagi pula, etika anggota Dewan di Yunani patut ditiru. ”Tentang anggota yang merokok, misalnya. Kita akan lihat bagaimana dunia mengatur anggota parlemen yang merokok,” kata Nudirman. ”Kemudian soal pakaian, kalau kita kan diatur bagaimana di negara orang. Soal cara ngomong juga. Apakah cukup dengan mengangkat tangan kemudian bicara, atau seperti apa?” Baca entri selengkapnya »


SUMPAH PEMUDA DAN GURU TAMAN SISWA

November 2, 2010

Oleh Asvi Warman Adam
Sejarawan LIPI

Jarang disebut bahwa Kongres Pemuda II tahun 1928 yang melahirkan Sumpah Pemuda dipimpin oleh Soegondo Djojopoespito yang berasal dari kalangan Taman Siswa. Soegondo lahir 22 Februari 1905 di Tuban, Jawa Timur.

Jika Soekarno pernah tinggal di rumah HOS Tjokroaminoto di Surabaya dan menganggap tokoh itu sebagai guru politiknya, maka Soegondo ketika bersekolah di AMS Yogyakarta pernah mondok di rumah Surjadi Surjaningrat (Ki Hajar Dewantara). Maka, jadilah Soegondo seorang praktisi dan kemudian tokoh pendidikan. Ia memimpin lembaga pendidikan Taman Siswa di Bandung tahun 1932. Menikah dengan Suwarsih pada tahun yang sama dan bersama-sama mendirikan sekolah Loka Siswa di Bogor. Selanjutnya ia mengajar di Taman Siswa Semarang dan tahun 1940 di Taman Siswa Jakarta. Tahun 1941 ia dipercaya menjadi Direktur Antara. Baca entri selengkapnya »


Langit Mendung di Atas Kampus

Juli 27, 2010

Oleh PROF DR KOMARUDDIN HIDAYAT

INI jeritan hati seorang guru. Mungkin sekali juga jeritan hati seorang dosen dan orang tua. Mari kita hitung. Berapa lama mendidik seorang anak sejak dari taman kanak-kanak (TK) sampai berhasil menjadi sarjana.

Lalu masih harus berjuang lagi jika ingin menempuh strata S-2, kemudian naik lagi S-3. Itu semua mungkin memerlukan waktu minimal 20 tahun. Untuk berhasil meraih gelar profesor, seorang dosen bahkan perlu perjuangan lanjutan lagi. Bayangkan, betapa banyak biaya dan pengorbanan yang mesti dikeluarkan baik tenaga, pikiran, uang, maupun emosi. Baca entri selengkapnya »