KOMPAS.com – Tidakkah Anda akan merasa lebih baik ketika orang yang otoritasnya lebih tinggi dari Anda, misal, orangtua atau bos bisa berbicara dengan nada yang nyaman? Tidakkah Anda akan merasa lebih bisa menerima ajaran atau masukan dari guru atau orang yang lebih tua dari Anda jika hal itu disampaikan dengan nada yang kalem? Begitu pun yang dirasa oleh anak Anda mengenai sikap orangtuanya. Dr. Adriana S. Ginanjar, Koordinator Klinik Terpadu Fakultas Psikolog Universitas Indonesia mengatakan, bahwa sikap positive parenting, bisa membantu menerapkan disiplin efektif dan interaksi menyenangkan antara orangtua dan anak. Baca entri selengkapnya »
Mendidik Anak Ala Positive Parenting
Juni 15, 2010Jika Suami dan Istri Berbeda Gaya Dalam Mendidik Anak
Juni 7, 2010Ideguru. 7 Juni 2010
KOMPAS.com – Adalah hal yang sangat umum terjadi jika sepasang orangtua memiliki gaya mendidik anak yang berbeda. Misal, salah seorang dari orangtua memiliki sifat otoriter dan yang satunya lagi tipe santai. Jika tak segera disinkronisasi, anak-anak dan pernikahan Anda bisa menderita. Apa yang harus dilakukan?
Ketika gaya mendidik Anda berbeda dari pasangan, bisa terjadi ketegangan tinggi di antara Anda dan pasangan. Misal, Anda yang tak setuju dengan suami yang selalu memberikan “ancaman kosong” atau gertakan jika si kecil tidak mau diatur. Contoh, saat si kecil tidak mau diatur di supermarket, dan si suami mengancam tidak akan mengajak si kecil ke Dufan liburan nanti. Padahal, hal itu cuma gertakan kosong, dan pada saat liburan pun, si kecil tetap dibawa meski ia sempat nakal di supermarket. Sementara Anda, lebih percaya kepada kesepakatan yang realistis dan tak bisa membayangkan harus menghardik atau mengancam anak di tengah-tengah ruang publik.
Barbara Frazier, MSW, pekerja sosial dan terapis di Gaineville, Florida mengatakan, “Banyak pasangan yang berbeda dalam cara merawat dan mengasuh anak. Dan hal ini lama kelamaan akan menjadi masalah. Ini adalah hal yang wajar, namun yang perlu diperhatikan adalah seberapa besar perbedaannya.”
Baca entri selengkapnya »
Jadikan Mereka Pribadi Visioner
Mei 29, 2010 Oleh : M. Fauzil Adhim

Kita bisa mengajari anak-anak untuk menghafal dengan cepat dan membaca dengan lancar. Tetapi keterampilan melafazkan Al-Qur’an dengan benar tidak dengan sendirinya membuat anak-anak dekat hatinya pada Al-Qura’an. Bisa membaca dengan baik tidak sama dengan mampu mengambil petunjuk. Bahkan sekedar sadar bahwa Al-Qur’an merupakan petunjuk, pembeda dan penjelas pun belum tentu. Sebab, sangat berbeda antara memahami secara kognitif dengan dorongan spontan untuk selalu melihat bagaimana Al-Qur’an berbicara.
Baca entri selengkapnya »
Mengapa Usia 14 Disebut Fase Paling Berbahaya?
Mei 16, 2010
Masa remaja sering disebut dengan masa yang penuh ketidakpastian sekaligus masa pencarian jati diri. Sayangnya, tidak semua usaha tersebut dilakukan dengan cara yang positif. Itulah sebabnya peneliti dari Inggris menyebut masa itu fase kritis alias berbahasa.Riset itu mengungkapkan diusia 14 tahun, sebagian remaja mulai gemar mengkonsumsi minuman keras, obat-obatan terlarang dan berprilaku seks tak sehat. Kecenderung macam itu dinilai peneliti lantaran kondisi remaja saat itu cenderung senang mengambil resiko. Baca entri selengkapnya »
HATI-HATI, JANGAN MEMUKUL ANAK
Mei 14, 2010
JAKARTA–Jika dulu memukul dianggap sebagai bagian dari disiplin. Penelitian terkini membuktikan, perlakuan kasar orang tua terhadap anak seperti memukul atau menampar saat fase tumbuh kembang, terutama pada anak berusia tiga tahun, akan memicu prilaku agresif.
Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam journal Pediatrics menunjukkan, ketika anak berusia tiga tahun dan mendapat perlakuan kasar, kemungkinan besar si kecil berprilaku agresif saat ia berusia lima tahun. Baca entri selengkapnya »
TIPS MENJADIKAN ANAK PEMBERANI
April 28, 2010By. Ideguru
Keberanian adalah salah satu syarat menjadi seorang pemimpin. Seorang anak yang pendiam belum tentu tidak mau melakukan hal-hal yang membutuhkan keberanian. Anak yang banyak bicara tidak selalu bersedia melakukan kegiatan-kegiatan yang menuntut keberanian. Keberanian seorang anak dapat ditumbuhkan sejak dini.
Anak Betah Sekolah karena Orangtua dan Gurunya
April 26, 2010KOMPAS.com — Sebagian orangtua pernah mengalami kesulitan mengajak anaknya ke sekolah. Balita yang baru akan mulai sekolah pun bisa menolak pergi ke sekolah. Motivasi seperti apa yang seharusnya diberikan kepada anak?
ANAK LAKI-LAKI LEBIH CERDAS, BETULKAH ?
April 26, 2010
KOMPAS.com — Secara fisiologis memang terdapat perbedaan struktur otak anak laki-laki dan perempuan. Selain lebih besar, otak anak laki-laki berkembang lebih cepat daripada otak anak perempuan. Apakah itu berarti anak laki-laki lebih cerdas? Ternyata belum tentu.
Menurut penjelasan dr Dwi Putro Widodo, SpA, konsultan ahli saraf anak dari RSCM, Jakarta, perbedaan struktur otak anak laki-laki dan perempuan tidak berkaitan dengan kecerdasan. “Ini bukan masalah fisik otak, tetapi lebih kepada lingkungan, dalam hal ini nutrisi dan stimulasi,” katanya.
TIPS MENDAMPINGI ANAK SAAT UJIAN
April 26, 2010
KOMPAS.com – Masih ingatkah Anda saat-saat menjelang ujian kala masih duduk di bangku sekolah? Sebagian teman Anda terlihat gugup, takut, khawatir, rasanya semua perasaan tak mengenakkan menghinggap setiap hari menjelang hari H. Tetapi, bagi sebagian teman lain, ujian bisa dijalani dengan tenang. Mengapa bisa begitu? Mungkin perbedaannya ada pada cara orangtua mendampingi teman-teman tersebut untuk menghadapi ujian.
“Setiap anak adalah masterpiece dari Sang Pencipta, sehingga dapat dipastikan tidak ada kesalahan dalam penciptaannya, kecuali jika Anda meragukan bahwa Sang Pencipta memang Maha Sempurna”. Begitu kutipan dari Leonardo Da Vinci dituliskan oleh Dra.Rieny Hassan, psikolog, membuka makalahnya dalam sebuah talkshow bertajuk “Peran Orangtua Menghadapi Tes atau Ujian Negara” yang diselenggarakan Tabloid Nova, di sekolah Global Mandiri, Cibubur, beberapa waktu lalu.
FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KEKERASAN PADA SISWA
April 25, 2010
Tulisan ini, sengaja kami ambil secara utuh dari blog e-psikologi.com, ditulis oleh Pudji Susilowati S.Psi, tulisan ini enak dibaca, sangat penting dibaca oleh guru dan orang tua, sayang daftar pustaka tidak disebutkan secara jelas,
Kekerasan dapat terjadi dimana saja, termasuk di sekolah. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh UNICEF (2006) di beberapa daerah di Indonesia menunjukkan bahwa sekitar 80% kekerasan yang terjadi pada siswa dilakukan oleh guru. Belakangan ini masyarakat dikejutkan dengan berita mengenai seorang guru yang menganiaya salah satu siswanya akibatnya siswa tersebut harus dirawat di rumah sakit. Di televisi juga pernah marak diberitakan mengenai siswa yang melakukan kekerasan pada siswa lainnya, contohnya kasus IPDN, dll. Hal ini, tentunya cukup mengejutkan bagi kita. Kita tahu bahwa sekolah merupakan tempat siswa menimba ilmu pengetahuan dan seharusnya menjadi tempat yang aman bagi siswa. Namun ternyata di beberapa sekolah terjadi kasus kekerasan pada siswa yang dilakukan oleh sesama siswa, guru atau pihak lain di dalam lingkungan sekolah.
Ditulis oleh ideguru 














