PEMBELAJARAN BERBASIS WEB

Mei 3, 2010

Oleh:
Dr. Rusman, M.Pd. & Dr. Toto Ruhimat, M.Pd.

1. Pembelajaran Berbasis WEB
Pembelajaran berbasis web yang populer dengan sebutan web-based training (WBT) atau kadang disebut web-based education (WBE) dapat didefinisikan sebagai aplikasi teknoloogi web dalam dunia pembelajaran untuk sebuah proses pendidikan. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa semua pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi internet dan selama proses belajar dirasakan terjadi oleh yang mengikutinya maka kegiatan itu dapat disebut sebagai pembelajaran berbasis web.
Kemudian yang ditawarkan oleh teknologi ini adalah kecepatan dan tidak terbatasnya pada tempat dan waktu untuk mrngakses informasi. Kegiatan belajar dapat dengan mudah dilakukan oleh mahasiswa kapan saja dan di mana saja dirasakan aman oleh mahasiswa tersebut. Batas ruang, jarak dan waktu tidak lagi menjadi masalah yang rumit untuk dipecahkan. Baca entri selengkapnya »

Iklan

PARADIGMA PENDIDIKAN MENJAWAB TANTANGAN ZAMAN

Mei 3, 2010

Oleh,
Prof. Dr. H. Soedijarto, MA

PENDAHULUAN
Sejak proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, Indonesia menghadapi tantangan yang berdimensi ganda. Karena kalau Negara-negara Eropa sejak abad ke-17 sejak Renaisance terus maju menjadi Negara industry didukung dengan peradaban modern (Science and Technology), penghuni Nusantara nasibnya terbalik. Setelah runtuhnya imperium Majapahit, — yang masa jayanya meliputi semenanjung Malaya, seluruh Kalimantan, bahkan sampai Philipina Selatan, — menjadi ratusan kerajaan kecil yang kemudian satu per satu terutama sejak abad ke-17 dikuasai oleh kaum penjajah, Portugis, Inggris, dan Belanda. Jadi kalau di Eropa abad ke-17 adalah kebangkitan rasionalisme dan Negara kebangsaan, Indonesia pada periode yang sama mengalami masa suram, dan pada permulaan abad ke-20 sepenuhnya dikuasai kaum penjajah. Dan baru mulai permulaan abad ke-20 melalui kebijakan yang terkenal Politik Etis, masyarakat Indonesia terutama elitnya mulai berkenalan dengan peradaban modern melalui sekolah-sekolah Eropa yang dibuka untuk elit pribumi. Kebijakan ini tanpa direncanakan oleh pemerintah penjajah telah melahirkan kaum terpelajar yang memimpin pergerakan nasional untuk mencapai kemerdekaan. Pada tahun 1940 penduduk Indonesia yang dapat mengikuti pendidikan modern hanyalah 93.416 orang pada tingkat Sekolah Dasar Belanda untuk pribumi (HIS, HCSL); 4034 ELS (Sekolah Dasar Eropa), 8235 SMP (MULO), 922 AMS (SMA), 552 HBS (SMA), 206 Gymnasium dan 157 Mahasiswa . Jadi kalau pada saat proklamasi jumlah yang melek huruf itu sekitar 10 % mayoritas hanya melek huruf daerah dan pendidikannya pun hanya mengutamakan 3 R (Writing, Reading, and Arithmatic).

Baca entri selengkapnya »