13 Macam Penyakit Guru

Mei 28, 2011

He..he..libur dulu nulisnya..pas baca di internet ada artikel menarik membicarakan tentang penyakit guru, saya termasuk yang mana nich…he..he…and yang penting lagi artikel ini mengingatkan kita  untuk sadar kembali kepada ruh dan tujuan pendidikan yaitu menjadikan siswa menjadi manusia utuh seimbang  sehat jasmani ruhani dan berakhlaq mulia. tidak hanya mementingkan pelajaran matematika dan sain..namun memandang penting yang lain seni, sport, dan agama/moral..ok silahkan baca ya…..

———————————————————————————————-

Oleh Ahmad Baedowi
Direktur Pendidikan Yayasan Sukma, Jakarta

Short message service (SMS) jelas merupakan sarana efektif bagi masyarakat untuk berkomunikasi. Segala jenis informasi bisa disebar hanya dalam hitungan menit, bahkan detik. Selain sebagai sumber berita, SMS juga dapat menjadi sumber belajar dan bahkan dari perspektif negatif, layanan ini juga dapat memberikan pengaruh dan citra buruk bagi sebuah tatanan, baik secara individu maupun kelompok. Beberapa berita atau isu soal gempa di Jakarta, ancaman terorisme, hingga bocornya soal-soal ujian nasional adalah di antara beberapa contoh betapa efektifnya penggunaan SMS.

Di Kota Bekasi (mungkin juga di kota-kota lainnya di Indonesia), khususnya dalam 2 minggu terakhir ini, merebak SMS dari satu guru ke guru lainnya tentang adanya “penyakit” di kalangan para pendekar pendidikan. Bunyi SMS ini memang terasa lucu dan sedikit mengada-ada, tapi dari segi substansi tampaknya kita tak bisa menganggap remeh isu penyakit guru ini. Gejala penyakit ini bahkan menjadi bahan diskusi yang cukup serius di lingkungan para guru, sambil di antaranya mereka mencoba mencocokkan jenis penyakit mana yang sudah ada dalam diri mereka masing-masing.

Inilah bunyi 13 penyakit guru versi SMS itu, yang jika penyakit itu diklasifikasi menjadi tiga jenis keterampilan (skill), yaitu kemampuan personal (kepribadian), metodologis, dan teknis. Pada aspek kemampuan kepribadian guru, penyakit yang disinyalir ada meliputi THT (tukang hitung transport), hipertensi (hiruk persoalkan tentang sertifikasi), kudis (kurang disiplin), dan asma (asal masuk). Banyak sekali dijumpai guru yang selalu berhitung soal pembagian transport dari dana BOS, kecurangan dalam hal proses sertififikasi, kurang disiplin dan masuk sembarangan hanya sekadar memenuhi absensi. Gejala ini sangat umum terjadi di lingkungan guru dan sekolah kita.

Diklasifikasi kedua, yaitu soal aspek metodologis, disinyalir guru bahkan memiliki lebih banyak penyakit. Jenis-jenis penyakitnya, antara lain salesma (sangat lemah sekali membaca), asam urat (asal mengajar, kurang akurat), kusta (kurang strategi), kurap (kurang persiapan), stroke (suka terlambat, rupanya kebiasaan), keram (kurang terampil), serta mual (mutu amat lemah). Aspek metodologis ini memang sangat terkait erat dengan faktor courage dan kesadaran untuk berkembang yang seharusnya dimiliki oleh seorang guru.

Sedangkan diklasifikasi ketiga yang menyangkut aspek keterampilan, penyakit guru disinyalir adalah TBC (tidak bisa computer) dan gaptek (gagap teknologi). Kita memang tak cukup punya bukti statistik, seberapa banyak sebenarnya jumlah guru yang sampai saat ini belum bisa dan mengerti soal komputer dan makna penting teknologi sebagai bagian dari pengembangan bahan ajar di kelas. Baca entri selengkapnya »


ILMUWAN MINUS PENELITIAN

Januari 19, 2011

Oleh Saifur Rohman
Peneliti Filsafat

Survei SCImago melaporkan, publikasi hasil penelitian Indonesia selama 13 tahun (1996-2008) adalah 9.194 tulisan. Angka itu menempatkan negeri ini di urutan ke-64 dari 234 negara yang disurvei. Dibanding negara tetangga, Singapura berada pada peringkat ke-31, Thailand ke-42, dan Malaysia 48.

Data itu tidak signifikan dengan jumlah peneliti di perguruan tinggi yang mencapai 89.022 orang. Menurut Kementerian Pendidikan Nasional, peneliti berpendidikan magister mencapai 71.489 orang, doktor 13.033 orang, dan guru besar 4.500 orang. Jika mengacu data SCImago, berarti dalam rentang lebih dari 10 tahun hanya ada satu dari 10 dosen yang menerbitkan hasil penelitian. Jika interval dipersempit dalam rentang satu tahun, jelas persentase itu sepuluh kali lebih sedikit. Baca entri selengkapnya »


MATINYA SEKOLAH DAN KAMPUS KITA?

Januari 19, 2011

Oleh Ahmad Baedowi
Pengamat pendidikan

Agak ekstrem, memang, membayangkan sekolah dan kampus tak memberi arti banyak bagi pertumbuhan mental individual dan sosial anak-anak kita. Secara individual mereka digiring untuk berpikir konvergen dan sangat jarang dituntun untuk berpikir secara divergen. Akibatnya pendidikan sangat minim dengan praktik mengapresiasi kondisi sosial karena di sekolah dan kampus anak-anak kita secara sengaja dan menyengaja diasingkan dengan persoalan keseharian yang ada di sekitar mereka. Akibatnya, muncul perlawanan diam-diam dalam bentuk yang asosial; kerumunan, tawuran, demonstrasi anarkistis, dan bentuk-bentuk kekerasan sejenis yang tak mereka dapati dan pelajari di sekolah dan kampus. Baca entri selengkapnya »


Mengembalikan Kehormatan Guru

Januari 19, 2011

Oleh Doni Koesoema A
Peneliti dan Konsultan Pendidikan, Alumnus Boston College Lynch School of Education, AS

Tak pernah ada dalam sejarah bangsa ini profesi guru begitu terpuruk di mata masyarakat seperti saat ini. Seringnya guru mogok mengajar karena berdemonstrasi, citra guru yang rusak karena tuntutan ujian nasional, dan kebijakan pendidikan yang abai terhadap pengembangan profesional guru hanya beberapa kenyataan yang menunjukkan betapa kehormatan guru telah hilang. Mengembalikan kehormatan guru tak lagi bisa ditawar untuk menyelamatkan masa depan negeri ini. Tugas itu tak ringan dan memerlukan kerja sama banyak pihak sesuai cakupan tanggung jawab mereka. Hanya dengan pendekatan utuh dan sinergilah, kita dapat mengembalikan kehormatan guru. Baca entri selengkapnya »


CITRA PROFESI GURU

Januari 19, 2011

Oleh Asep Sapa’at
Pelatih Pendidikan Lembaga Pengembangan Insani Dompet Dhuafa

Hanya ada dua profesi di dunia, yaitu guru dan bukan guru. Mungkin ini hanya sebuah pandangan subjektif, meskipun mungkin juga hal ini pun sangat benar adanya. Profesi guru menghasikan profesi lainnya, tetapi tidak sebaliknya. Ada sebagian orang yang jalan hidupnya berubah karena diinspirasi sosok guru. Guru, tak cukup pandai menjelaskan sajian materi pelajaran, tetapi lebih dari itu, guru adalah orang yang mampu membuat perbedaan bagi pribadi-pribadi siswanya karena perilakunya yang layak digugu dan ditiru.

Jika kita cermati sejarah perkembangan profesi guru di tahun 1960-an, profesi guru masih menjadi suatu profesi yang banyak diminati sehingga proses seleksinya pun relatif ketat. Alhasil, pada saat itu, mereka yang diterima untuk bisa belajar di lembaga pendidikan guru adalah para lulusan terbaik dari sekolah menengah (ranking I sampai III). Baca entri selengkapnya »


SERTIFIKASI GURU

Januari 19, 2011

Oleh Waras Kamdi
Ketua LP3 Universitas Negeri Malang; Pegiat Kelompok Peduli Pendidikan Guru

Fenomena kecurangan dalam pelaksanaan Sertifikasi Guru Dalam-Jabatan lewat Portofolio kian menguak apa yang sesungguhnya telah jadi rahasia umum.

Terungkapnya kasus plagiasi 1.700 guru di Riau menunjukkan sebagian kecil dari kecurangan dalam memenuhi portofolio sertifikasi guru. Banyak masyarakat yang merisaukan aneka pelanggaran itu, tetapi program sertifikasi terus saja melaju atas nama pemenuhan amanat peraturan perundang-undangan.

Kerisauan juga berkembang di kalangan pimpinan lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK), terutama yang diserahi tugas melaksanakan sertifikasi tersebut. Dalam lima tahun terakhir (2006-2009), lebih dari 500.000 guru telah diberi sertifikat oleh LPTK yang ditunjuk pemerintah (Kompas, 1/11). Namun, hingga detik ini belum ada kabar menggembirakan adanya peningkatan kinerja guru bersertifikat pendidik itu. Malahan, sertifikasi telah sempurna menyemaikan dan menyuburkan budaya jalan pintas yang amat mencederai sosok profesional guru itu sendiri. Baca entri selengkapnya »


RESTORASI DIMULAI DARI BANYAK GURU

Januari 19, 2011

Oleh Hadi Aspirin
Praktisi pendidikan dan penggiat FMGI Lampung, tinggal di Kalianda

Bangsa yang maju, modern, berilmu, dan berpendapatan tinggi, di mana pun, pasti dimulai dengan bagaimana mengelola pendidikan dan sumber daya manusianya. Perhatian, perhargaan terhadap pendidikan dan guru menjadi kata kunci untuk membentuk sumber daya manusia (SDM) berkualitas. SDM yang berkualitas adalah fondasi yang kokoh untuk kebangkitan suatu bangsa, apa pun kondisi sumber daya alamnya.

Berkaca pada Jepang dan Malaysia, kedua negara tersebut memiliki karakter sama dalam hal prioritas pembangunan. Tidak hanya dari sisi anggaran pendidikan yang lebih dari 20%, tetapi penguasa dan kultur masyarakat yang sangat menghormati guru. Kedua negara juga sama-sama mengundang guru dari luar untuk merestorasi negerinya. Indonesia sebenarnya punya potensi untuk bangkit. Jepang dan Malaysia bangkit karena didorong psikologi sosial ketakutan dan perasaan terancam. Jepang terancam penjajah pada abad ke-19. Baca entri selengkapnya »


Meng-ON-kan gen bakat anak

Agustus 11, 2010

Oleh Murni Ramli (25 Mei 2010)/oleh-oleh dari Jepang

Segerombolan ibu-ibu Jepang mengintip dari balik jendela, menyaksikan anak-anak mereka yang sedang berlatih tari hip-hop. Ya, mereka adalah ibu-ibu yang berharap besar anak-anaknya menjadi artis/aktor terkenal dan tempat mereka mengintip adalah sebuah sekolah pembinaan bakat seni.

Saya benar-benar terpukau dengan penyajian acara di TV Jepang dua hari yang lalu. Saya terpaksa menghentikan sejenak kegiatan memperbaiki disertasi dan segera membuka halaman baru di komputer untuk mencatat hal-hal yang penting.

Malam itu ditayangkan tentang bagaimana pembinaan bakat di Cina dan di Jepang. Seperti biasa, acara melibatkan para artis dan juga tak lupa Professor ternama yang sedang meneliti tentang gen yang memetakan bakat seseorang, dan juga seorang penulis buku terkenal tentang bagaimana bakat dilatihkan di kalangan olahragawan terkenal seperti Ichiro Suzuki. Ini keunikannya barangkali bahwa menonton TV Jepang selalu membawa kita pada sebuah pengetahuan baru, makanya tak pernah bosan menontonnya. Baca entri selengkapnya »


CARA PANDANG SEKS REMAJA PERLU DIARAHKAN

Agustus 2, 2010
“Sebuah artikel yang harus dibaca oleh orang tua dan guru, agar putra-putrinya selamat dari pergaulan bebas, seperti yang terjadi di Surabaya akhir Juli 2010, siswi kelas 1 SMAN 12 melahirkan dari hubungan gelap dengan sang pacar yang akhirnya lari, kemudian dia melahirkan dan membuang  bayinya di kamar mandi sekolah, sebelumnya ia bunuh dulu bayi tersebut.

MEDAN, KOMPAS.com - Cara pandang para remaja terhadap seksualitas perlu diarahkan, agar mereka tidak salah menganggap hal alamiah itu menjadi sebuah aktivitas yang biasa untuk dilakukan bagi kalangan usia muda.

Pengamat kesehatan, dr Tengku Yenni Febrina  di Medan, Jumat, mengatakan, masa remaja merupakan saat fase transisi dari anak-anak menuju dewasa, sehingga pada masa itu mereka membutuhkan perhatian dari orang tua dan sekolah untuk kehidupan sosialisasi pergaulan remaja.

Untuk itu, menurut Yenni, pada masa remaja perlu mendapat bimbingan yang cukup besar dari orang para orang tua.

Sehingga para remaja tersebut tidak akan mudah terpengaruh atau terjurumus dari perbuatan negatif, serta pergaulan bebas yang merugikan masa depan mereka.

“Salah satu pergaulan bebas saat ini yang paling populer adalah menganggap free sex sebagai hal yang biasa untuk dilakukan,” katanya.

Ia menambahkan, untuk menghindari terjadinya salah pengertian para remaja terhadap pergaulan bebas, bahaya serta risiko yang akan dialami jika melakukan hal itu, dan mereka perlu diberikan pendidikan seks yang benar dan jelas. Baca entri selengkapnya »


Manusia Sebagai Fokus Pendidikan

Juli 15, 2010

Artikel Bagus saya ambil dari sini . menjadi renungan bagi kita semua, apakah pendidikan kita seperti pendapat dibawah ini atau tidak? silahkan membaca.

Apa fokus pendidikan kita sekarang? Secara umum, alam menjadi titik sentral pendidikan; alam menjadi tujuan. Manusia menjadi “budak” dari alam; ilmu, teknologi dan dan hal-hal yang bersifat pragmatis termasuk uang mengambil tempat paling penting. Pendidikan yang berpusat pada manusia semakin tersingkir.

Ini tidak lepas dari sosok yang paling berpengaruh dalam dunia pendidikan, John Dewey. Ia tokoh pendidikan Amerika Serikat pada awal dan pertengahan abad ke-20 dan menggulirkan konsep pragmatisme. Dewey mengatakan bahwa pendidikan adalah penyesuaian pribadi yang bertumbuh terhadap lingkungannya (education is ” adjusment of the growing personality to its environment). Ia membuat lingkungan menjadi pusat pendidikan. Bagi Dewey, manusia itu harus disesuaikan terhadap lingkungannya tanpa menyebut defenisi “lingkungan” (environment) secara jelas.” Baca entri selengkapnya »


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.