TAHAPAN-TAHAPAN PEMBELAJARAN PAKEM

By. ideguru

Dengan mengetahui hakikat dan tahapan perkembangan berpikir anak, maka guru dalam melaksanakan pembelajaran hendaknya mengacu pada cara anak belajar. Belajar adalah proses membangun makna/pemahaman yang dilakukan secara aktif (mental dan fisik) oleh anak, belajar berarti harus mengalami langsung (Piaget dalam Trianto, 2007:13). Selain itu, anak sebelum pergi ke sekolah sudah mempunyai gagasan dan gagasan awal anak harus digunakan guru dalam menanamkan konsep baru. Ausubel mengatakan bahwa belajar akan bermakna jika informasi baru dihubungkan dengan strukur pengertian (gagasan awal) yang sudah dipunyai anak yang sedang belajar (dalam Suparno, 1997:54). Oleh karena itu, tidaklah pada tempatnya jika guru menganggap anak adalah gelas kosong yang harus diisi pengetahuan. Anak ibaratnya tanaman yang harus dirawat dengan baik. Sebagai pembelajar, anak adalah tanaman yang sudah punya potensi untuk tumbuh dan berkembang, tinggal bagaimana guru mengembangkan sesuai dengan potensinya.

Tugas guru menyediakan kegiatan pembelajaran yang beragam sehingga potensi anak dapat berkembang maksimal. Melatih anak untuk bertanya, mengemukakan pendapat, berdiskusi dalam kelompok kecil, bercerita, dan bermain peran sangat baik untuk meningkatkan interaksi dengan sesama teman, sekaligus meningkatkan kemampuan berbahasanya. Belajar dengan mengalami langsung seperti melakukan pengamatan, percobaan, wawancara dengan nara sumber adalah cara belajar yang mengaktifkan anak karena anak belajar sambil berbuat dan menggunakan semua inderanya. Misalnya, belajar IPS sambil bermain peran sebagai delegasi KTT ASEAN adalah kegiatan yang menyenangkan karena anak bisa melatih keberanian dan rasa percaya diri dalam suasana yang kelas yang menyenangkan.

Kegiatan pembelajaran di atas dapat dilakukan bervariasi: kelompok kecil, berpasangan, individual, dan klasikal.  Kegiatan pembelajaran sekali-sekali juga perlu dilakukan di luar kelas ketika anak harus mengamati lingkungan, berkunjung ke puskesmas atau kantor kelurahan, atau mewawancarai pak tani yang sedang bekerja di sawah di dekat sekolah. Variasi ini perlu untuk menghindari kejenuhan, dan yang lebih penting adalah untuk tetap menjaga kegiatan belajar tetap menarik dan menantang. Menggunakan beragam metode mengajar dan beragam kegiatan belajar yang mengaktifkan anak, serta mendorong munculnya kreativitas sebagai hasil belajar harus menjadi perhatian guru.

Pentingnya ketersediaan alat peraga atau alat bantu belajar harus juga menjadi perhatian guru karena anak masih dalam tahap berpikir operasional konkret, sehingga tanpa alat peraga yang dapat dilihat, anak tidak akan banyak belajar.  Pepatah China mengatakan, “Saya mendengar saya lupa; saya melihat saya ingat; saya mengerjakan saya lebih mudah memahami.”  Di sinilah pentingnya benda atau obyek bisa dilihat anak. Kalau tidak ada obyek, pembelajaran akan menjadi verbalistik karena semua materi diceramahkan guru, dan akhirnya tidak pernah terjadi proses belajar dalam diri anak.

Selain alat peraga, guru juga perlu menyediakan sumber belajar yang beragam, termasuk menggunakan lingkungan. Buku yang selama ini menjadi satu-satunya sumber belajar yang harus dihabiskan halaman demi halaman karena mengejar target kurikulum, kiranya sudah tidak pada zamannya lagi. Kurikulum berbasis kompetensi menyarankan guru menggunakan apa pun: media cetak (surat kabar, majalah, buku-buku cerita dan pengetahuan, buku biografi, buku paket, kamus, ensiklopedi, buku telepon), media elektronik (rekaman kaset dan CD, siaran radio dan tv), peristiwa alam dan peristiwa yang terjadi di sekitar anak, serta lingkungan. Tuntutan kepada siswa bukan lagi sekedar pengetahuan kognitif, tetapi kompetensi yang merupakan keterpaduan pengetahuan, keterampilan, dan sikap/perilaku yang dapat ditunjukkan dalam bentuk perilaku, maka sumber belajarnya dapat menggunakan apa pun yang ada di sekeliling anak.

Dilihat dari komponen PAKEM, proses belajar seperti di atas dapat dikatakan sudah memenuhi kebutuhan anak belajar, yakni anak mengalami langsung dengan mewawancarai petani dan mengamati areal persawahan. Dalam mempersiapkan pertanyaan wawancara,  mengolah hasilnya, dan membuat laporan, mereka dapat berinteraksi dengan teman-teman kelompoknya. Dalam proses belajar ini, setiap kelompok dapat mencari informasi yang berbeda, misalnya ada yang wawancara dengan petani, polisi lalulintas, pengusaha kerajinan, pedagang kakilima, dan sebagainya agar informasi yang diperoleh anak sekelas beragam, dan antarkelompok bisa saling belajar hal baru. Kemudian masing-masing kelompok dapat mempresentasikan hasil laporan atau mengkomunikasikan informasi yang telah diperolehnya dengan cara dipajangkan sehingga dapat dibaca teman-teman lain.

Melalui mengamati hasil karya yang dipajangkan, selain setiap anak dapat memahami dan mendalami setiap informasi dengan baik, sekaligus juga belajar informasi berbeda yang disampaikan kelompok lain. Di sini anak sebetulnya tidak hanya saling belajar, tetapi juga dapat memotivasi mereka untuk berkarya lebih baik manakala melihat hasil karya temannya lebih baik. Guru harus memahami hal ini sehingga dapat mendorong dan membimbing anak-anak untuk meningkatkan prestasi. Anak dilatih melakukan refleksi pada setiap akhir pelajaran. Tanyakan apakah mereka menikmati dan senang dengan pelajaran hari ini? Apa yang sangat berkesan bagi mereka? Apa yang belum mereka pahami dan ingin pelajari lebih lanjut? Jadi, mengakhiri pelajaran jangan hanya membuat kesimpulan dan memberikan PR, tetapi melatih anak melakukan refleksi sangat penting, karena hasil refleksi anak ini banyak sekali manfaatnya. Hasil refleksi tidak hanya diperlukan untuk membantu memperbaki proses dan kemajuan belajar anak, tetapi bagi guru dapat untuk memperbaiki program dan pelaksanaan pembelajaran berikutnya sehingga diharapkan guru dapat mewujudkan tuntutan kompetensi yang dimiliki anak secara maksimal.

Tulisan diatas, saya peroleh dari pelatihan Pakem.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 40 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: